Maxine An Lincoln

Name:

Maxine An Lincoln

Nicknames:

Super-Max, Maximus, Maximum, Max-Genius

DOB:

Michigan, 1993

Occupation:

Boston Special Crime Consulate (Freelance), Doctoral student at Massachusetts Institute of Technology – Nuclear

Living:

Boston, United States

Family:

Adam S. Lincoln (Father), Isaak E. Ducan (Step-Brother)

Facts:


Merasa bosan dengan kasus serta proyek yang diberikan oleh pemerintah, Max melarikan diri ke sudut Toronto. Kota tempat ia dibesarkan setelah pindah dari Michigan. Toronto membawa Max untuk membuka kotak masa lalu, ketika ia berkenalan dengan sekelompok anak band. Lantas, ia nekat terbang ke kota tempat salah satu teman di menengah atas itu tinggal: Seoul, Korea Selatan.

Genius adalah predikat yang tidak bisa dijauhkan dari namanya. Max memiliki kemampuan berlebihan dalam berpikir, ia seorang anak yang cerdas. Max kecil kerap mengasingkan diri di tumpukan riset milik Adam, juga berpustakaan kecil yang dulu Ibunya bangun di ruang tengah. Ia senang memberi ruang untuk diri sendiri, tidak gampang bergaul. Memilih untuk berpikir seperti orang tua ketimbang bermain bersama anak seumuran.

Polah tidak wajarnya ini membawa malapetaka; di umur empat tahun, Max berhasil menuliskan hasil dari persamaan reaksi dan terus berkembang di tahun berikutnya seperti memecahkan rumus algoritma dan kode biner. Adam notabene seorang ilmuan cukup terkenal karena tangan kanan dari William Brown, mendadak didatangi oleh orang tidak dikenal. Mengaku tertarik dengan kelebihan Maxine dan berharap Adam mau untuk mengkarantina Max agar mereka dapat mempelajari sistem kerja otak gadis itu. Namun di tahun yang sama, ketika Max menginjak umur empat tahun, ia harus kehilangan Ibunya lantaran pabrik tempat beliau bekerja meledak dan Adam terlibat kasus pencurian uang sponsor sampai harus mendekam beberapa hari di penjara.

Di tahun 1999, Adam membawa serta Max pindah ke sudut Toronto. Di sana ia dipertemukan dengan kawan lama—turut membantu kasusnya dan bahkan dia yang mengusulkan untuk pindah ke sana—Abraham Taylor, kepala sersan kepolisan Toronto. Kemudian, berkat Abraham pula Adam diperkenalkan dengan si anak es dari Siberia; Isaak E. Ducan dan berakhir menjadi salah satu bagian dari keluarga kecilnya.

Isaak Elagin; Max’s first love and never dies

Isaak berwatak keras. Ia dapat diatur, namun susah untuk disuruh. Sebelum terlibat dalam dunia Adam, Max dan Isak acapkali menghabiskan waktu bersama. Kali pertama pria muda itu datang, Max seringkali melemparkan pertanyaan padanya, terus menerus bahkan ketika Isaak telah berbaring di ranjang untuk tidur. Namun, lambat laun, Isaak yang sering menghabiskan waktu di lab bersama Adam membangun benteng yang tinggi di antara keduanya. Ia berubah pendiam, berbicara saat ada obrolan yang penting. Bahkan bertempramental buruk jikalau Max melakukan hal konyol.

Isaak adalah bahan eksperimen Adam. Sedari kecil, ia banyak mengkonsumsi bahan-bahan lab, itulah mengapa ia sampai kehilangan indra pencecap dan terkadang merasakan mati rasa di beberapa bagian tubuh.

Kang Young Hyun; Max’s questions and answers

Di antara tiga kepala murid laki-laki nakal di kelasnya, Brian memberikan impresi layak untuk dikagumi oleh Max. Cerita mereka di mulai ketika Adam memutuskan untuk membiarkan Max—atas saran Abraham—masuk ke dalam sekolah umum di Toronto. Meskipun sempat ragu dan Max terlibat masalah di hari pertama karena terlibat sebuah prank, gadis itu terlihat sangat bahagia. Tidak hanya dengan Brian, Max juga berteman dengan dua anak lain; Terry beserta Don. Sayangnya pertemanan mereka dikotori dengan kesalahpaham sampai Brian mendeklarasikan Max sebagai orang yang tidak pantas berbicara dengannya.