Hate and The Intentions (4)

Hate and The Intentions

. . .

“You don’t need water to feel like you’re drowning, do you?”

—Jodi Picoult, Nineteen Minutes


Toronto, Canada

Adam menarik tangan dari kenop pintu sekian kali. Ia berbalik, menimang-nimang. Berpikir kembali apakah tidak masalah untuk melibatkan pria itu—lagi—melihat proyek bulan ini cukup menumpuk. Mereka bahkan belum memasuki fase susunan laporan yang terkadang memakan waktu lama. Adam menghela napas, ia benar tidak bisa memikirkan keputusan lain selain mendorong pintu dan mengulaskan senyum pada pria muda yang masih sibuk dengan berkas-berkas di atas meja.

“Kau belum pulang, Nak.” Ujarnya, melambungkan kalimat retorik. Kemudian berjalan kaku ke arah rak tinggi dekat jajaran tumbuhan. Isaak, si pria muda dengan—masih—bersetelan jas putih panjang itu mendongak sekilas, mengulaskan senyum sebelum kembali fokus pada dokumen laporan penelitian bulan ini. “Meja ini salah satu rumahku.”

Adam tertawa. Di antara semua pekerja di sini, Isaak satu-satunya orang yang paling betah untuk tinggal di laboratorium. Walaupun letak kantor mereka terbilang strategis dan tidak butuh berjalan cukup jauh untuk menemukan hotel atau supir pribadi yang selalu setia mengantarkan Tuan mereka setiap saat. Terlalu banyak jalur alternative untuk sekadar beristirahat, namun pria muda keras kepala itu menutup semua kemungkinan yang ada. Entah karena disengaja atau karena ia terlalu mencintai pekerjaan. Sementara Isaak sudah kembali dengan pekerjaannya, Adam menggaruk tengkuk bimbang. Beberapa kali ia hendak berbalik dan berbicara, tetapi perasaan untuk tidak menganggu pria muda itu terus-menerus terbesit di dalam kepala.

“Er, Ayah…” Belum sempat Adam melanjutkan maksud kedatangannya, Isaak sudah beranjak dari meja kerja. Melepas jas putih, menaruhnya di kapstok kayu. Pria itu juga meraih kunci mobil serta mantel cokelat di sandaran kursi. Melihat itu, Adam semakin merasa tidak enak. “…Maaf merepotkanmu lagi. Dia hanya mendengar perkataanmu dan Ayah hanya,”

“Tidak masalah.” Sahut Isaak, cepat. Tersenyum samar. “Aku bisa menjemputnya.”

Adam mengangguk-angguk. “Terimakasih.” Tak lama setelah Isaak berjalan keluar melewatinya, Adam kembali memanggil. “Hei, Isaak. Byblos?”

Sure.”

Rock & Roll Festive, Toronto

“Kau beli bunga, untukku?”

Brian serta-merta menarik buket bunga dari tangan Don sembarangan. “Hei, hei! Kembalikan, kau membuat kelopaknya rusak!!” Teriak Don, histeris. Kembali merapikan kelopak mawar yang sempat terlipat ketika dibawa berlarian oleh Brian. “Kalau dia sampai menolakku karena kelopaknya rusak, aku akan keluar dari band ini dan berhenti berteman denganmu.” Ancam pria itu dan disambut semburan tawa Brian. “Aku serius!” Imbuh Don lagi, bernada meyakinkan.

“Kali ini kau harus percaya padanya, Brian.” Terry memasuki ranah perbincangan mereka. Meskipun masih sibuk mengatur sutingan gambar di camcorder. “Kau tidak lupa hari ini hari apa, kan,” Brian bersedekap dada. Memiringkan kepala, kemudian menunggu pria itu untuk melanjutkan ucapannya meskipun ia tahu Terry memang sengaja memotong di bagian itu. Berharap kalau Brian benar ingat kejadian penting apa yang akan terjadi hari ini. “Apa…astaga,” sahut Terry mendramatisir.

Brian membalas dengan merotasikan mata penuh. “Berlebihan.”

Man, hari itu hari ini.”

“Ha? Hari itu hari ini, apa maksudmu?”

Kini giliran netra Terry berputar. “Don bilang dia akan meneraktir kita di Burger King kalau pernyataannya diterima. Aku sudah menyiapkan list makanan yang akan kupesan malam ini,” Dahi Brian semakin mengerut. “Wow, wow sebentar, Man. Kalian tidak membicarakan ini padaku,” nadanya berubah serius. Lantas membuat Terry dan Don bertukar pandang hati-hati. Mungkinkah teman mereka ini marah? Tapi Terry bersumpah ia sudah mengirim pesan ke Brian tempo hari.

“Idiot. Kenapa pilih Burger King? Setidaknya malam ini kita harus makan lobster dekat pantai.” Terry meringis keras, pundaknya lagi-lagi menjadi sasaran tamparan Brian. Pria bersurai cepak itu kembali semangat. “Mana kutahu, kau tidak membalas pesanku minggu kemarin. Kau kemana, sih? Ah, bukan. Kau sudah lumayan menghilang akhir-akhir ini. Datang hanya saat latihan, atau paling tidak langsung pulang kalau ada janji.” Sementara Terry mencoba hasil pengaturan dari camcorder, mulai merekam. Brian berdeham cukup panjang—melalangkan buana pikiran beberapa bulan belakangan—kemudian menoleh ke arah Don, kelopak matanya beubah lesuh.

“Pilihan bagus.”

Don mendongak, cengar-cengir sembari menggaruk ujung kepala belakang, “Thanks, dude. Kalau kau sudah bilang begitu aku semakin bersemangat.”

A FEW MONTHS

AGO

.

Brian menghela napas panjang. Ia sendirian di klinik sekolah, mendadak terkena sakit perut karena ketidaksengajaan Terry menukar cola berisi kecap asin—bahan usilan untuk Warren, teman sekelas bertubuh gempal—dengan miliknya. Berkat itu pula ia tidak bisa ikut pelajaran olahraga dan melewatkan pertunjukan kesenian sekolah. Ah, perutnya kembali bergetar. Mungkin memang seharusnya ia mengkonsumsi obat yang disarankan oleh Ms. Quinta tadi. Sebentar, di mana obat itu ditaruh, ya?

Ia beranjak dari tempat tidur. Perlahan keluar dari ruang istirahat seraya memegangi perut, beringsut mendekati kabinet obat dan meja Ms. Quinta yang tak berpenghuni. Tadi kalau tidak sengaja menguping, Dokter perempuan itu diminta untuk berkunjung ke ruang kepala sekolah dan sempat berteriak pamit padanya. Dengan bergumam nama penyakit perut, iris cokelat samar pemuda itu menelusuri ragam rendeng botol sampai ia dibuat serta-merta menoleh ke pintu depan ketika mendengar hentakan kuat—bahkan kabinet yang berada di depannya ikut bergetar.

Seseorang menabrak pintu kaca klinik.

Brian memecah bahak. Ekspresi pertama yang ia ajukan saat tahu sumber dari bunyi tabrakan barusan, sedangkan si korban tawa hanya membungkuk sejenak—meraih buku bacaan yang terjatuh—dan mendorong pintu klinik santai sampai mereka bersitatap, Brian menekap mulut. Ia meringis, menghujat diri dalam benak, menyesali tawa di luar batas semestinya. Namun, gadis itu pun tak terlalu memusingkan, mengenai sikap tidak sopan Brian atau memang tidak mengetahui tujuan tawa pria itu tadi, dan hanya duduk di meja Ms. Quinta tanpa berkata apa-apa.

Tahu kalau Brian masih menatapnya, Maxine berujar, “Replacement.” Dan berimbuh, “obatmu ada di barisan nomor empat, rak nomor dua, botol terakhir. Kalau di minum dan lekas istirahat, kau masih bisa mengikuti acara kesenian.”

Ia tak setakjub dulu, seperti saat Maxine menceritakan persoalan bau hujan atau mengenai ia yang gemar keluar lebih dahulu ketika ujian dan Brian mengetahui sisi lain Maxine. Yang tidak semua orang bisa memiliki kemampuan sedari lahir itu. Baru-baru ini Brian mempelajari, saat ia tahu kalau ada beberapa manusia mendapat label G. Mereka yang harus mendapat perlakukan berbeda dari manusia pada umumnya dan standar yang dilebih-lebihkan. Kala itu Brian kembali terlambat datang, lalu terpaksa mengambil jalan pintas dari belakang sekolah agar tidak terkena hukuman dan berakhir mendengar percakapan kepala sekolah dengan si anak baru. Itu kali pertama Maxine dan Ayahnya berkunjung ke sekolah York Mills.

Benar di sini, Brian berbisik dalam hati. Ia benar menemukan obat sakit perutnya, diletakkan di tempat yang sama seperti ucapan Maxine beberapa menit lalu.

“Kau baik-baik saja?” Kata pria itu menutup pintu kabinet, kemudian berbalik menatap si gadis. Tidak ada sahutan. Dahinya berlipat tebal, benar-benar gadis satu ini. “Kepalamu tidak terasa sakit,” imbuh Brian. Semakin dibuat meringis lantaran pelipis gadis itu sudah mengucurkan darah segar. Pastilah terkena kisi tajam dari bodi pintu yang ditabrak. “Hei, Max. Kau ini kenapa, sih, tidak menjawab. Kekasihmu waktu itu marah karena kita duduk berdua saja di depan sekolah atau dia mengacammu untuk tidak mengobrol—”

Brak.

Brian tersigap mendengar hentakan dari buku yang baru saja ditutup oleh gadis itu dengan kuat.

“Kekasih?” Maxine kembali terdiam.

Pria itu pikir ia akan terkena lemparan karena telah mengungkit perihal sang kekasih—yang bahkan tidak menyapanya dan kalau dipikir-pikir ia juga berhak untuk marah atas perlakuan tidak sopan itu.

“Isaak, kekasih?”

Entah mengapa, Brian melihat jemari gadis itu tergepal, seolah tengah menyimpan kemarahan karena perkataan itu. Apa ia salah menebak, atau mereka tengah bertengkar jadi kata itu terkesan tabu untuk diucapkan? Pria itu memaki diri, lagi-lagi ia salah memilih perkataan dan terlibat dalam atmosfer sempit—tidak memiliki opsi untuk memperbaiki keadaan. Padahal waktu itu, di saat mereka dihukum bersama, ia dapat merasakan dinding yang tercipta sedari gadis itu lahir dapat dilangkahi dengan mudah.

“Jadi dia benar-benar membenciku?” Pandangan Maxine nampak kosong.

Brian mengangguk-angguk. “Ya. Memang tidak terlihat, ya—EH?” Matanya membelalak.

“Pantas dia menolak tanpa memberi alasan.” Gadis itu kembali bergumam sendiri.

Sementara Maxine sibuk bersama pemikirannya, dahi pria itu semakin berlipat-lipat. Sama sekali tidak mengerti dengan tanggapan Maxine mengenai kata Kekasih yang ia maksud, seakan gadis itu memiliki arti lain di luar jangkauan Brian.

“Max. Hei, Max,” panggil pria itu. Meminta perhatian dari si gadis. Maxine menoleh, “apa kau tahu arti dari kata kekasih?”

Gadis itu mengangguk. “Aku pernah bertanya padanya tentang ini. Dia bilang aku tidak perlu tahu, tapi setelah kudesak, itu merupakan ungkapan kebencian. Padahal aku sudah beberapa kali menyatakan rasa suka, kupikir karena aku kurang tepat memprediksi sistem kinerja hormon—”

Brian mengembus napas. Ya Tuhan, bagaimana bisa gadis ini dapat bertahan hidup di dunia ini. “Kau mau kubantu,” mulut Maxine berhenti bersuara, digantikan oleh alis yang berjingkat sebelah. “Aku cukup tahu jurus handal untuk mendapatkan hati orang. Hal seperti ini tidak akan selesai hanya dengan membaca buku, kau perlu orang yang memiliki banyak pengalaman.” Melihat gadis itu masih menatapnya dengan pandangan skeptis, Brian menambahi, “aku sudah bilang padamu, kan. Aku tidak berniat membocorkan rahasia, kita sudah berteman. Seorang teman tidak mungkin berkhianat.”

Ia lalu mengulurkan tangan, kontrak di antara mereka, tanda setuju kalau Maxine akan berada dibawah ajarannya. Agak ragu gadis itu mengangsurkan tangan, namun lantas langsung disambut oleh Brian. Tidak masalah, Brian tidak ingin mempersalahkan. Asalkan ia dapat melihat senyum seperti sore itu satu kali lagi, ia akan melakukan apapun.

Meski pada akhirnya, Brian mungkin berakhir sendiri.

“Nah, sekarang biar aku mengobati pelipismu.”

Apa benar kalau orang bahagia semua rasa sakit akan dibutakan? Seperti Brian yang nampaknya sudah mati rasa mengenai nyeri perut yang membuatnya berulang kali memasuki toilet.

“Wah, aku tidak tahu jurus playboymu bisa mempan dengan anak baru itu.” Terry menarik satu baki, kemudian masuk ke dalam barisan untuk menerima makan siang. Diikuti oleh dua teman lain yang tak pernah absen, Brian dan Don. “Kalau dilihat kau dan anak baru itu cepat akrab, terakhir aku dan Don melihat kalian berdua di perpustakaan. Incaranmu sudah berubah arah lagi, Brian,” ia menyambut uluran roti dari pelayan kafetaria sembari menoleh ke belakang sesekali.

Don yang tengah memilah sayuran dan makanan penutup di belakang, diam-diam menunggu jawaban yang keluar dari mulut pria itu. Sayangnya, Brian memang tak berkeinginan untuk membalas ucapan Terry. Tak sabaran atau lebih tepatnya tidak ingin mendengar respons yang salah, ia buru-buru melepaskan tawa sembari mendorong kedua tubuh temannya, “Man, itu sebuah penghinaan. Kelas incaran Brian selalu berbeda. Lagipula Max hanya anak baru yang tidak sering bersosialisasi, tidak mungkin menarik perhatian Brian. Iya, kan, Brian,”

Dipaksa seperti itu Brian hanya bisa tersenyum sembari mengangguk setuju. “Y-ya.”

“Bisa jadi. Dia kan senang hal yang besar—” Belum sempat melanjutkan kalimat, Terry mendapat dorongan kasar di bagian kepala. Kemudian kedua teman itu sudah saling membalas pukulan sehingga kepala pelayan kafetaria menegur.

Don menghela napas lega, ia kembali ke dalam barisan. Menyambut uluran kotak jus dari pelayan kafetaria dengan senyum terus mengembang.

“Siapa yang tidak suka bersosialisasi?”

Tiga sekawan itu serempak menjauh, terkejut akan kedatangan mendadak seorang gadis di hadapan mereka. Dua dari mereka; Terry dan Brian, menubruk ujung kaki meja dan nyaris menumpahkan jatah makan siang. Sedangkan, Don, mengalih pandang ke sembarang arah, menutupi semu rona wajah—ia juga sempat beberapa kali merapikan rambut yang terkesan lepek, baginya—tak mau bertukar pandang dengan gadis yang sudah mengusik pikiran belakangan ini.

“Hah, selamat. Aku bisa mati kelaparan kalau sampai jatuh,” Terry meringis sembari mengulus jemari kaki. Menahan rasa sakit ujung kaki yang diadu hantam. Begitu juga Brian yang dibuat memisah diri. Mencari tempat untuk meringankan rasa nyeri. “Sialan, siapa yang muncul secara mendadak—” Ia kontan merapatkan mulut. Si topik pembicaraan mereka tengah berdiri—tanpa buku tebal seperti kebiasaan—dan menatap Brian dengan pandangan tidak biasa. Terry tahu betul Maxine tidak pernah memandang salah satu dari mereka seceria ini.

“Ha, Halo, Max—”

Baru saja Don mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan gadis itu, Maxine berbalik tubuh. Mengejar Brian yang berjalan terseok ke salah satu meja di kafetaria. Dua lawan jenis itupun sudah terlibat percakapan, samar-samar didengar oleh Don dan Terry yang masih terdiam di dekat konter makanan.

Ia mungkin bisa menahan konklusi macam-macam yang berlintas di kepalanya saat ini, pun tuduhan tanpa arahan jelas. Namun Don tak bisa menahan rasa sakit, sekuat apapun ia mencoba.

Maka Don memutuskan, ia harus segera menyatakan perasaan.

Secepat mungkin.

Hate & The Intentions: End

♣ Notes;

  1. Scene terakhir itu sebelum scene series terakhir ketiga. Jadi sebelum Don nanya sama Brian sama Terry, Max itu orangnya gimana dan dia mau nyatain perasaan ke Max. Maapkeun perpindahan yang sedikit berbelit-belit ini ya ;_;
  2. Duh, awalnya gak nyangka kalau series ke-4 bakal sepanjang ini dan bukanya maju, malah mundur nyeritain gimana perjalanan Brian sama Maxine bisa jadi deket. Padahal pengen langsung masuk scene Don nyatain perasaan ke Max, tapi ide malah muncul~
  3. Yaks, dramanya sudah di mulai saudara-saudara. Satu chap lagi, setelah itu baru lanjut series mereka yang baru. Khusus cerita masa depan, atau tentang si Isaak.
  4. Terimakasih!!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s