Chul Min’s Thoughts: Actually, I…

HONEYST’s Kim Chul Min

.

Actually, I…

.

.


Kim Chul Min’s Thoughts:

Chi,

Kau itu aneh.

Aku sama sekali tidak suka tingkah anehmu dan kau sama sekali bukan tipeku.

Hwan memberitahu kalau kau lagi-lagi membuat masalah bersama para renternir. Aku tidak heran. Kau masih muda, masih banyak ekspresi yang perlu kau tunjukkan ke dunia ini. Tetapi, aku harap kau bisa mengetahui batas dan memikirkan konsekuensi. Sebagai teman, kurasa sesekali aku perlu mengingatkanmu. Hari itu aku tidak ada skedul siang jadi tanpa pikir panjang aku datang bersama onggokan plastik berisi cemilan karena kau pastilah akan menginap di apartemen Kakak laki-lakimu; markas rahasiamu—tempat pelarian dari rumah.

Sebenarnya, aku bertandang untuk menghiburmu, tetapi kau sudah menghibur diri dengan bermain ponsel; permainan otome itu. Yang kau ceritakan padaku bisa menelepon dan berkirim pesan bersama karakter delusional—ditambah kau bilang mereka tampan. Aku ingin menyapamu karena agaknya kau tidak mendengar bel yang kutekan sekian kali—sampai jari-jariku keriting; ibaratnya. Hanya mulutku melepaskan kalimat lain, ujaran pendapat sepihak mengenai status pengangguran yang kau emban beberapa tahun belakangan. Bodohnya, kau malah terkejut dan ponsel yang sedang kau pegang terlepas, mengenai separuh wajahmu.

Dan juga Chi,

Di mana-mana, perempuan selalu ingin terlihat anggun di depan laki-laki tetapi kau—Ah, kau bahkan tidak merubah posisi tidur terlentangmu dan melihatku dengan pandangan terbalik. Darahmu bisa memenuhi seluruh kepalamu kalau kau tetap mengantungkan kepalamu di pelipir kasur. Aku yang tidak tahan melihatmu seperti itu lekas mengalihkan diri ke konter dapur. Menyusun belanjaan yang kubeli di mini market terdekat agar kau tidak kelaparan. Tidak perlu repot-repot salah paham, ini bukan berarti aku peduli atau menyukaimu, aku hanya prihatin dengan pola hidupmu.

Lalu, Chi, aku tidak tahu kau itu terlalu polos atau benar-benar bodoh. Dari dapur aku dapat melihat kau berusaha untuk meraih ponsel yang terpental sekian meter dari tempatmu—lagi-lagi kau tidak mencoba untuk beranjak, hanya mengulurkan tangan dengan posisi sama. Aku baru saja ingin beringsut mendekatimu, tetapi kau sudah kehilangan keseimbangan dan berakhir menghantam kepala ke ubin kayu. Aku benar-benar tidak tahu akan berakhir seperti apa hidupmu, namun kau tahu, entah mengapa hatiku tiba-tiba saja berdebar mendengar sahutanmu:

“Kau berbicara seolah ingin mempertanggung-jawabkan hidupku,”

Ini bukan berarti aku suka padamu, kan. Aku hanya tidak bisa mendengar kata ambigu seperti itu. Maka dari itu aku mengalihkan diri dengan mengambil ponselmu. Kau pasti tidak sadar, kan seberapa gugupnya aku karena ucapan itu.

“Aku alergi dengan busking kalian.”

Hari itu juga aku mengajakmu untuk menonton busking kami di Hongdae, tetapi alasanmu sempat membuatku kesal. Kenapa, sesuatu terjadi padamu? Bukan, bukan mengenai masalah yang seringkali kau buat, siapa tahu ada cerita yang kau sembunyikan dariku. Kau tidak biasa menolak untuk menonton pertunjukkan kami, bahkan kau satu-satunya orang yang bertepuk tangan paling keras setelah Honeyst selesai tampil. Hanya, akhir-akhir ini, kau benar-benar aneh. Aku tidak tahu kenapa kau terlihat menghindari ajakanku—tidak, bukan hanya aku. Aku pernah meminta Hwan untuk mengajakmu juga tetapi kau malah memarahinya.

Anehnya lagi, aku sedikit merasa senang ketika kau menolak ajakanku atau Hwan untuk menonton pertunjukan kami di kelab. Kau tidak tahu, kan kalau aku sering memperhatikanmu dari atas panggung. Aku kerap melihatmu diajak mengobrol dengan beberapa laki-laki di kelab—jangan salah paham, aku tidak cemburu. Aku senang kalau kau bertemu orang yang bisa mengajakmu keluar. Tetapi setidaknya, cobalah untuk sedikit berhati-hati. Kau tidak mau kalau kejadian tempo hari terulang, bukan.

Dan, wah. Aku tidak tahu kalau kau sampai sepenasaran itu mengenai sikapku di hari kedua kali kita bertemu. Kau bertanya pada Hwan, kan. Tentang mengapa aku terlihat mengabaikanmu di sesi makan malam waktu itu dan tidak sama sekali tertarik untuk mengobrol padamu. Sejujurnya, aku ingin mengoreksi ingatanmu, tetapi walaupun kujelaskan, kau tetap tidak akan tahu, kan.

Jadi, biar aku saja yang mengingatnya.{}

.

Actually, I…

…have met You before.

. .

Attichetic notes:

[.] Yap, ini nyambung.

[..] Chul Min sok misterius. Walaupun aslinya enggak /?/ Tapi berhubung dia ngadepin mahluk teraneh, jadi harus sedikit misterius gitu. Chi Seol juga sok tahu, ih. Mungkin setelah ini saya bakal buat cerita utama, mungkin sih ya. Cerita utama bakal di pubs di Carnival Breeze.

[…] Doi pikirannya ngebingungin, ya. Bilangnya gak suka, tapi selalu menjurus ke arah suka. Soklah di sikat Chi Seol, daripada dia keluyuran gak jelas juga. Main sama preman lagi.

[….] Terimakasih!! Yang mau liat Chul Min lagi manggung, sini. Lagu buatan Honeyst ini akhirnya ngebuat saya move on dari I Wouldnya DAY6.

*otome: permainan yang targetnya perempuan. Biasanya karakter cowok tampannya lebih dari satu, terus karakter utama harus milih salah satu sebagai prince charmingnya. Ada beberapa ending, bisa baik, buruk atau normal.

Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s