Hate and The Intentions (3)

Hate and The Intentions

. . .

“Anyone, anything, can betray anyone. Even your own heart.”

Victoria Aveyard, Glass Sword

. . .


Toronto, Canada

“Di mana Don?”

Terry mengendik bahu. “Entahlah,” ia terdiam, kemudian disusul desisan sehingga Brian kembali menatapnya. “Kau tidak merasa aneh, Brian, mengenai tingkah Don akhir-akhir ini.” Kini Brian bertupuh dagu, mendengarkan. “Masalahnya dia memang sudah aneh,” imbuh pria itu sebelum Terry menambahkan hipotesis lain ke dalam tajuk ajuannya. Ia pun ikut membenarkan dengan mengangguk kepala berkali-kali. “Iya, kan. Dia antara kau dan aku, dia paling tidak tertarik mendapat perhatian dari perempuan. Diajak bicara perihal kelab malam baru di Downtown saja tidak mau, apalagi mengajaknya ke sana secara ilegal.”

Brian tersenyum samar, lantas merubah arah pandang ke luar jendela kelas. Tanpa sengaja menangkap sosok Maxine tengah duduk bersama buku tebal yang acapkali gadis itu bawa. Benar, setelah masa hukuman selesai, Maxine nampak lebih banyak terbenam dengan rak-rak buku milik perpustakaan sekolah. Di dalam kelas pun gadis itu hanya menatap pemandangan di luar jendela, tetapi ketika pertanyaan tanpa sengaja dilambungkan ke arahnya, Maxine dapat menjawab dengan santai seolah sudah membaca seluruh buku kurikulum. Lebih aneh lagi ketika ujian pertengahan semester di mulai, gadis itu akan segera keluar bahkan sebelum seluruh kertas ujian dibagikan. Beberapa teman sekelas beranggapakan jikalau Maxine tidak terlalu memperdulikan nilai karena latar-belakang keluarganya yang tidak jelas dan rumor itu masih belum bisa dikatakan fakta sampai sekarang. Walaupun mereka sudah berkenalan, tetap saja ada dinding pembatas di antara mereka. Atau, ini hanya perasaannya saja.

Ia menghela napas. Terlalu banyak spekulasi berlintas di benaknya. Brian baru saja hendak beralih pandangan, tiba-tiba saja ia menangkap sosok yang ditanyainya beberapa menit lalu. Terbahak bersama orang yang sedang diajak mengobrol. Tanpa sadar buku-buku jarinya memutih.

. . .

Ada hari di mana Brian terpaksa menjadi siswa terakhir di sekolah. Ia kembali mendapat hukuman; tidak lagi mengurusi klub teater, kali ini membantu staf sekolah untuk menghitung nilai ujian. Berkat melepaskan binatang peliharaan milik James di pelajaran fisika dan seluruh siswi perempuan di kelas menjerit ketakutan—tidak dengan Maxine, gadis itu malah tidak merespons. Sibuk bersama buku yang tengah dibaca—berbeda lagi dengan Ms. Wilson, wanita separuh baya itu lekas meninggalkan kelas tanpa alas kaki. Lalu, Terry dan Don menahan tawa di meja masing-masing. Sebenarnya, ini keusilan tanpa disengaja. Brian benar tak bermaksud membuat kekacauan dan jikalau ada, ia akan mendiskusikan perihal itu pada Don dan Terry. Tetapi meskipun dikatakan berkali-kali, kepala sekolah telah berhenti mempercayai ucapan Brian semenjak di tahun pertama.

Ia menguap sembari melakukan peregangan otot sejenak sebelum menaruk tumpukan kertas ujian terakhir di meja Ms. Wilson. Brian melirik keluar jendela, hujan mulai mereda. Dipikir harus menunggu sedikit lama lantaran bulir tak menentu itu lagi-lagi turun deras, tetapi syukurlah, setidaknya ia bisa berjalan ke depan tanpa perlu mengorbankan tas sebagai penutup kepala. Brian baru saja menutup loker ketika tanpa sengaja ekor matanya menangkap sosok gadis familier tengah termangu di anak tangga pelataran lobi.

“Kukira aku siswa terakhir yang belum pulang hari ini,” Brian sekonyong-konyong ikut memanjangkan kaki di anak tangga, duduk sekian meter dari tempat Maxine. Gadis itu mengangkat kepala sekilas, tak menjawab, kembali dengan buku yang telah mencuri perhatiannya belakangan ini. Brian mengulum bibir, kemudian beralih tatap ke limpas hujan di perkarangan sekolah. Tiba-tiba ia ingin mengajukan obrolan, “kau tahu bau khas setelah hujan dari mana asalnya,”

Maxine tidak menjawab.

“Aku dengar karena pabrik di dekat sini memberikan polusi udara, baunya sedikit berbeda, dan ketika hujan turun uap dari polusi itu bercampur menjadi suatu zat dengan air hujan, lalu memunculkan bau setelah hujan turun.” Iris pria itu bergulir, mengekori gerak Maxine dari ujung mata. Ia menarik napas, “tapi setelah—“

“Nitrit Oksida.” Potong gadis itu.

Brian menoleh. Tidak lagi menatap rintik-rintik hujan di depan.

“Kilat memecah molekul oksigen dan nitrogen selama hujan petir di atmosfer, molekul itu lalu bertransofrmasi kembali menjadi Nitrit Oksida. Subsitansi yang berinteraksi dengan zat lain di atmosfer, kemudian membentuk Ozon. Hari ini, hujan turun bersama petir. Maka dari itu bau ini berasal dari sana.” Maxine mengangkat kepala, telunjuknya mengarah ke atas. “Ada dua bau lain bercampur bersama Ozon; minyak dan Algiosmen. Minyak berasal dari tumbuhan. Senyawa minyak bercampur yang bersama Geosmin di udara, itu produk sampingan dari metabolisme aktinobakteri. Sedangkan Aligiosmen, merupakan bakteri yang ada di dalam tanah. Karena sekolah ini berada di perkotaan, probabilitas bau Ozon lebih besar daripada Algiosmen, alasan mengapa bau di sini sedikit berbeda atau, faktor lain, penciumanmu tidak setajam manusia lain.” Jelasnya, memaparkan fakta. Yang sejurus kemudian membuat ia terdiam.

Manik Maxine berputar ke sembarang arah. Sadar kalau ia lagi-lagi melakukan kesalahan. Bisa saja pria ini membeberkan keanehannya, belum lagi saat mereka terlibat hukuman bersama, Maxine tanpa sengaja menggunakan rumus kalkulus serta koordinat grafik untuk menemukan komposisi warna yang tepat dari tiap sudut pandang. Bisa dikatakan kalau keganjilan ini dapat menjadi bukti kuat kalau ia memang tidak normal. Isaak benar akan membencinya setelah ini dan meminta Ayah mereka untuk menarik dirinya dari sekolah. Meskipun alasan dibalik keinginan Maxine bersekolah di sekolah umum adalah untuk mencuri perhatian Isaak dan membuat pria itu merasa cemburu—atas saran Samuel, teman sejawat pria itu sedari menengah pertama.

“Aku pandai menyimpan rahasia.” Ucapan barusan lantas membuat Maxine kembali menatap Brian. Pria itu menarik sudut bibir lebar, memberi keyakinan. “Kita teman, kan, Max,”

Tin, tin!

Mobil cherokee tahun lama melipir di bahu jalan sekolah. Memecahkan ruang obrolan mereka karena Maxine lantas berdiri tegak dan tersenyum lebar begitu sosok pria berpakaian necis mendekat. Mereka—Brian dan pria itu—sempat bertukar pandang sebelum pria itu kembali menatap Maxine dan memberikan payung. Kemudian, tanpa berkata apapun pada Brian, dia berbalik. Diikuti Maxine dari belakang dengan langkah riang, gadis itu bahkan tak mengucap sepatah kata perpisahan untuknya.

Brian sendiri belum menarik perhatian dari ekspresi wajah Maxine. Ada sesuatu yang mengikat pemuda itu; senyuman yang gadis itu berikan saat sosok itu mendatanginya.

Ia mau, ia ingin Maxine ikut memberikan tarikan sudut bibir lebar itu padanya.

. . .

“Menurutmu dia bagaimana,” Terry mengerutkan dahi, kemudian mengangkat kepala dari layar laptop di depan. “Dia siapa, maksudmu,” balas pria itu, lantas mendapat putaran bola mata. “Kau menjawab seolah aku gemar berubah pikiran dalam hal menyukai perempuan seperti Brian.” Kini, Brian ikut mendongak. Melancarkan ucapan non verbal perihal namanya yang terseret dalam ranah pembicaraan mereka. “Apa, kau lupa sudah berapa anak perempuan di kompleks ini dan sekolah kau deklarasikan sebagai incaranmu.”

Bukan lagi cibiran, Brian sudah melompat dari kursi untuk memberikan Don pelajaran lewat perkelahian kecil di atas meja. Terry sendiri lekas menyelamatkan laptopnya dari sepakan, termasuk dirinya karena arena mereka kadang tak menentu. Dapat berubah-rubah sesuai keinginan.

“Maxine,” ucapnya, setelah kalah telak dari adu gulat bersama Brian dan masih mengapar di atas meja meski Terry sudah mengatakan ia perlu menaruh laptop di sana. “Menurut kalian bagaimana,” kontan semua kegiatan di ruangan itu berhenti. Brian yang hendak kembali duduk dan memainkan gitar, berdiri kaku.

Don tersenyum lebar, “aku akan mengutarakan perasaanku kali ini.” Kepalanya berputar, menatap dua teman sekelas itu bergantian. “Kalian berdua mendukungku, kan?”

—Hate & The Intentions: End—

Notes;

  1. Sengaja dibuat flashback semua, biar cepet selesai.
  2. Ini kayaknya si Brian gak jujur, ya. Nanti di chapter berikutnya dijelasin (kalau inget) kenapa dia begitu.
  3. Nah, nah, Don udah mau garcep aja. Takut si Max diambil orang kayaknya.
  4. Episode selanjutnya mungkin masa depan sama flashback bakal dicampur lagi, semoga tidak membingungkan. Inget, kalau bingung pegangan dulu HAHAHA.
  5. Terimakasih!
Advertisements

One thought on “Hate and The Intentions (3)

  1. JEEEGEEER *efek suara petir dalem kepala yongke waktu Don maen gas pol*
    Makanya bang, kalo suka tu jangan pake mikir tau tau disalip temen kan mikirnya kelamaan sih
    Wkwkwk asem emang max ya ngobrol malah dikasih pelajaran meterologi abis itu yongke dikacangin karena pujaan hati nongol
    Makanya ongke perasaan cewe jangan dimainin, kena kualat kan baru tau rasa wkwkwkwk
    Ditunggu perjalanan karma yongke sama progres max gantolin isaak jen!

    Liked by 1 person

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s