Hate and The Intentions (2)

Brian x Maxine

.

HATE & THE INTENTIONS

.

I don’t think there is any truth. There are only points of view.

Allen Ginsberg


Toronto, Canada

Abraham terbahak. Dua cangkir kopi panas nyaris tumpah berkali-kali karena tangannya tak berhenti mengebrak meja, geli ketika Adam datang bersama kop surat dari sekolah York Mills. Terlebih melihat judulnya; surat panggilan orangtua. Pagi ini, Adam menelepon. Berkata kalau ia merasa kalut, tidak tahu keputusan mana yang harus diambil karena suatu hal terjadi. Abraham pikir itu perihal perkembangan laboratorium, tempat Adam dan anak angkatnya—dapat disebut si bahan eksperimen; Isaak—akan memulai penelitian mengenai sel manusia dan tumbuhan atau mengenai kasus pelarian uang sponsor tetapi siang ini, semua terjawab sudah.

“Kau benar-benar berlebihan sebagai seorang Ayah,” Abraham tak bermaksud mengejek, sungguh, tetapi tingkah tak wajar Adam yang lekas gelisah hanya karena sepucuk surat panggilan dari sekolah membuat ia terpaksa mengatakan kalimat itu. “Seharusnya kau senang Maxine dapat melakukan hal seperti ini di hari pertama, itu tandanya dia sudah menjadi anak normal. Ya Tuhan, Istrimu akan ikut tertawa bersamaku kalau dia ada di sini,” ia menaruh kembali surat itu ke sisi Adam.

Melihat temannya diam, Abraham menarik sudut bibir. “Dia akan baik-baik saja, Adam. Percayalah, membiarkan dia bersekolah adalah keputusan yang benar. Maxine bisa memiliki teman di umur sebayanya.” Tak lupa tepukan di lengan Adam agar ia nampak lebih semangat dan pria itu membalas dengan senyuman hangat.

“Lalu, bagaimana dengan Isaak? Kau tentu tidak melupakan anak keras kepala itu, kan. Kudengar dia menginap di lab dua bulan ini,”

. . .

“Lain kali aku harus mengutuk Nenek tua itu sebelum memberi hukuman,” Don mengerang malas, serta-merta melempar kuas dan menjatuhkan tubuh di atas tegel. “Hari terakhir tapi serasa baru saja memulai.” Ia menoleh. Dua teman lain sedang beradu kecepatan, berlari mengelilingi hall teater seperti hari-hari sebelumnya; perkelahian kecil tanpa akhir. Hanya Maxine masih menekuni tripleks-tripleks klub teater dengan sumbu X dan Y—sengaja digambar di atasnya—serta rumus rumit kalkulus. Yang tidak ada dari mereka dapat mengerti, dikira hanya coretan tanpa arti karena gadis itu bosan.

Ia membenahi posisi, menjadikan ruas jemari sebagai tumpuan kepala.

Semenjak mengerjakan hukuman satu minggu ini, Don benar merasa aneh. Ia sendiri sering mempertanyakan mengapa akhir-akhir ini otaknya sulit untuk dikendalikan. Gadis di klub renang; Angel Shang—dulu akan muncul dalam pikiran setiap bangun tidur—kini tiba-tiba saja tidak lagi berada di barisan depan untuk diingat, terbelakangi oleh kehadiran anak baru yang tanpa sengaja terseret ke lingkar pertemanan kelompoknya. Maxine An Lincoln. Mendengar nama itu saja seringkali membuat ia berdesir. Don pernah memasang standar ideal, jikalau ia menyukai perempuan dengan kemampuan mistis memperpanjang obrolan lebih dari satu jam—lantaran Don tidak terlalu pandai dalam berbicara—dan gadis itu dengan mudah melewati garis standarnya. Bahkan di hari pertama, ia sudah dibawa kemana-mana lewat konversasi tak sengaja; berawal dari unsur kimia, kemudian berlanjut ke trivia seru mengenai perputaran dunia.

“Don,”

Pria itu tidak menyahut.

“Don Lee,” panggil Maxine. Don mengerjap, lekas-lekas menautkan tatapan dengan si pemanggil, tetapi kembali memaling ke sembarang arah. Ia jadi salah tingkah sendiri. “Y-ya?” Sahutnya, duduk dengan menggaruk tengkuk. Maxine diam, sejurus kemudian ia semakin mendekatkan diri, “a-ada apa?” Tanya Don lagi sembari menelan saliva dalam-dalam.

Maxine tersenyum. “Hanya satu persen,”

“Eh?”

“Di dunia ini hanya satu persen manusia memiliki warna mata hitam pekat,” imbuhnya. “…dan kau nyaris memilikinya.” Mata Don membelalak. Ia bergeming, tidak lagi mendengar perkataan yang mencuat dari mulut Maxine. Alam sadar pria itu telah dibawa ke dunia lain, pikiran tak menentu tentang gadis bermulut magis ini. Otaknya bahkan tidak dapat diajak bekerjasama, hanya ada satu rasa yakin yang terus mengusik. Namun tidak dapat terucap, tertahan lantaran kontras dengan pemikiran lalu.

Don tidak dapat mengakui jikalau ia telah masuk ke suatu tempat.

Ia sudah jatuh.

*

Seoul, South Korea

Ia merasa pengar sudah merontoki seluruh saraf-saraf dalam kepalanya, euh, menyakitkan. Young Hyun mengangkat kepala, terbangun dari tidur kilat di kafe dekat universitas. Tadi usai melakukan ujian, ia lekas melipir kemari, hendak mengulang pelajaran untuk ujian minggu depan tetapi malah tertidur. Teringat akan suatu hal, ia merogoh ponsel. Ada satu pesan dari Sung Jin yang mengharuskan Young Hyun untuk segera kembali ke studio setelah menyelesaikan ujian atau paling tidak setelah makan malam karena demo mereka harus segera diselesaikan. Benar, deadlinenya hanya tinggal beberapa hari lagi.

Terdengar embus napas, beriring dengan usapan kasar di kepala.

“Aku sudah tahu skor ujianmu minggu depan,”

Lekas Young Hyun menoleh, kemudian dibuat memejam kilat. Dalam hati menyumpah, serta-merta ia menyurukkan seluruh buku-buku ke dalam tas cepat. Enggan mengindahkan, akan lebih baik jika ia bisa keluar dari tempat ini dalam hitungan detik. Berbicara hanya akan menghamburkan waktu berharganya sebelum kembali terkurung di studio.

“Kau masih membenciku?”

Harus berapa kali ia mendengar kata tanya itu minggu ini. Young Hyun merotasikan mata cepat, lalu menyumbat kedua telinga dengan earphone. Ia beranjak, melaju tergesah-gesak ke pintu keluar. Sedangkan Maxine, menatap pemuda itu lurus tanpa ekspresi. Dengan malas ikut berjalan keluar, susah payah mensejajarkan diri kembali dengan pria semampai itu. Tanpa bicara, hanya mengikuti langkah lekas-lekas milik Young Hyun yang telah melewati sekian blok dan pintu menuju subway. Sayangnya, di perempatan jalan Maxine merubah arah. Toko bercat setengah pudar dengan tumpukan buku di depan pintu.

Young Hyun masih melenggang. Kepala pemuda itu penuh dengan berbagai macam cara untuk membuat Maxine berhenti datang tanpa diundang seperti tadi, bahkan mengikuti bak anak kehilangan induk. Baiklah, ia tidak bisa berjalan terlalu jauh lagi melihat subway terakhir tidak melewati line yang sama dengan tujuan, apalagi mengharapkan bus. Ia menghirup napas, memantapkan diri. Mungkin ada baiknya berbicara secara baik-baik jikalau pertemuan mereka tempo hari sudah cukup menjadi bukti Young Hyun tidak ingin memperbaiki keadaan. Pria itu rasa, hubungan seperti ini sudah terlampau baik untuk mereka.

Ia melepas salah satu earphone seraya berbalik, “berhen—“ kelopak matanya menggeridip cepat. Menoleh ke sembarang arah, mencari sosok perempuan berambut lurus panjang itu di sekitar, namun nihil. Sosoknya terlanjur melebur bersama ketidaktahuan Young Hyun. Perlahan kelopak matanya menurun, berikut iris cokelat-kehitaman yang lagi-lagi terbawa arus lamunan ketika menatap pedestrian di bahu jalan.

*

Toronto, Canada

Maxine lekas-lekas berlari ke teras rumah. Membuka pintu, lalu menepuk-nepuk bajunya yang basah karena bulir air hujan. Toronto tengah mengalami masa prediksi cuaca tak menentu, kadang kala akan ada hari di mana matahari menerik luar biasa atau rintik-rintik hujan membasahi perkarangan sampai limpas air terdapat di setiap sudut. Seperti hari ini, ketika Maxine telah dijemput oleh supir pribadi dan diantarkan kembali ke rumah, hujan dengan cepat mengambil alih daerah Ontario bahkan sebelum ia keluar dari mobil.

“Bagaimana hari pertamamu?” Sontak Maxine mengangkat kepala, termangu sekian menit. Tak butuh waktu lama sampai ia mengulas senyum, lekas-lekas melepas sepatu kemudian berlari ke ruang keluarga di mana Isaak tengah menonton teve. Nampaknya pria itu juga baru kembali dari laboratorium. Terakhir kali terlihat sewaktu Maxine diberitahu soal masuk sekolah umum, dua bulan lalu. “Ayah memberitahuku perihal surat dari kepala sekolah,” ia menggelengkan kepala sebelum mendongak, menatap Maxine lewat tatapan dingin seperti biasa.

I miss you,” kata Maxine santai. Tidak mendengar topik yang diangkat oleh Isaak, mengenai masalah di hari pertama dan sudah membuat laboratorium rusuh. Samuel, teman satu posisi dengannya pun terlihat kaget. Isaak memejamkan mata sembari mengembuskan napas, “are you expecting me to say ‘yes me too’? Keep dreaming because I’ll never say that.

Gadis itu terkekeh. Sekarang ia baru merasa pulang ke rumah. “Aku punya banyak teman. Laki-laki. Salah satu dari mereka nyaris memiliki pupil pekat sepertimu.” Ujar Maxine, agak bangga. Iris hitam pekat Isaak bergulir ke sudut, mendengarkan.

Bagi gadis itu ini sebuah kemajuan pesat, meskipun masih ragu menyebutkan kata teman dalam obrolan. Selama 17 tahun dikunci dalam rumah tanpa komunikasi; hanya bertukar sapa dengan Adam dan Isaak serta beberapa pegawai di laboratorium, tentu membuat ia agak canggung ketika pertama kali dihadapi oleh khalayak ramai. Tetapi, berkat kejadian tidak sengaja di hari pertama, Maxine seakan dibawa ke dunia baru. Ditambah sifat ramah-tamah tiga sekawan itu, ia dapat merubah pandangan yang diberikan Adam dan Isaak tentang orang tidak dikenal menjadi lebih positif.

Did you remember what Dad and I said to you before,” Alis Maxine berjingkat sebelah. Intonasi Isaak tidak pernah setajam ini jikalau pria itu tidak dalam keadaan normal. “You shouldn’t get close to them. There’s no such thing as friends. Don’t declare them as your friends, they’re not good enough for you. We did tell you this.” Ia menahan napas, “don’t make me pissed off, just spend your time in Library and make distance with them.” Isaak beranjak, kemudian berlalu.

Maxine mengulum bibir, perlahan mengikuti gerak Isaak ke anak tangga tempat pria itu menghilang.

Tidak ada sesi mendengarkan cerita dari sesi gadis itu. Topik mereka dibiarkan mengabur, hilang terbawa banyak pertanyaan.

Hate&The Intentions(2):End

  1. Capek nulisnya, butuh banyak referensi padahal akhirnya gak dipake ;A;
  2. Isaak jahat ya. Tapi dia ganteng, jadi gak jahat /lho/
  3. Terimakasih!

 

Advertisements

One thought on “Hate and The Intentions (2)

  1. Ea don lee eaa bunga bunga kecantol max cieeee
    yealah isaak mah batunya masih aja gitu gitu ya, pengen minta dilemparin pake roketnya nasa rasanya ya syukur kamu bening
    kamu tu harusnya diteliti juga tau, robot apa manusia apa separo separo. mbok ya jadi orang jangan gitu amat mas.
    Ini max kayaknya udah kebal kena pantul isaak jadinya dikacangin brian mah udah pro wkwkwk giliran mau disemprot orangnya malah ngilaaah yaaaaah pasti brian keki banget nyahahaha
    ditunggu momen max nyangkut kena sihirnya don lee juga jen! Semaaaangaaa~

    Liked by 1 person

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s