Hate and The Intentions (1)

Brian x Maxine

.

HATE & THE INTENTIONS

.

Sagittarius: Almost enjoys creating awkward situations.. For other people, of course. But when they find them self stuck in one, they acknowledge it. Why pretend that things are find when they’re not?


Seoul, South Korea

“Kau masih membenciku?”

Young Hyun yakin ia tidak perlu menjawab. Kau masih membenciku, ulangnya dalam hati. Kalimat retoris yang diucapkan oleh gadis diseberang itu disambut dengan senyuman samar. Lantas Young Hyun menegak tubuh, sedikit menyeruput Americano dekat ruas jari. Kemudian mendesah—lagi, seakan amat lelah akan topik beberapa tahun lalu  yang kini dibiarkan mengudara kembali.

“Kau, kan pintar.” Young Hyun menekan kata pintar. “Membaca pikiranku tentu bukanlah hal sulit untukmu.”

Maxine meringis. “Mungkin maksudmu, aku genius.” Lekas dikoreksi. Ia benar-benar tidak suka jika kata itu mulai disandingkan dengan kecerdasannya.  Young Hyun mengangguk-angguk malas. “Ya, tentu saja. Aku kemari karena aku sudah tahu jawabannya.” Alis pria itu dibuat nyaris bersentuhan, tidak mengerti dengan maksud perkataan Maxine barusan.

“Dan, kau masih berani menemuiku?”

Dibalas dengan anggukan. “Karena aku tidak membencimu. Masalahnya ada pada dirimu, kau mendeklarasikan aku sebagai musuh tanpa sebab yang jelas. Aku bahkan tidak tahu kalau kau menanam rasa benci padaku.” Young Hyun menghela napas. Sebuah keputusan tolol untuk mengikuti saran Wonpil menemui gadis ini. “Kau tahu apa itu benci?” Imbuh Maxine, menyadarkannya dari lamunan.

Young Hyun diam. Ia tidak langsung mengomentari pertanyaan dari gadis di seberang barusan, malah mengajak otaknya untuk bernostalgia sesaat. Dibawa ke masa saat kata benci menjadi perwakilan dari definisi mereka. “Don Lee.”

“Ha?”

Ia membuang muka. “Don Lee pernah menyukaimu.”

*

Toronto, Canada

Ketika Adam pertama kali mengumumkan kalau ia akan menikahi gadis Asia pemilik toko beagel terkenal di New York; An Min Ah, tak sedikit dari teman-teman seperjuangan mentertawai. Bahkan banyak dari mereka melempari guyonan kepada si calon istri kalau Adam tidak akan mampu membagi waktu antara pekerjaan dan akan melupakan Min Ah begitu proyek membanjiri ruang kerjanya. Tetapi semua ditepis dengan keputusan Adam untuk berhenti dari kantor utama di New York dan membangun lab miliknya sendiri di kota Michigan. Dua tahun menikah, ia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Maxine. Tentu, kelahiran Maxine kembali membuat teman-teman Adam membanjiri ia dengan keraguan. Bisa saja menjaga satu perempuan dapat dilalui, tetapi dua orang, semua serempak meragukan.

Namun, dihari kematian Min Ah, mereka menutup mulut. Hanya ucapan bela sungkawa dikeluarkan, sisanya tepukan pada pundak Adam mengambil alih karena masalah lain ikut mensejajarkan diri untuk dikhawatirkan. Teman satu proyek membangun lab tiba-tiba saja melarikan diri, kabur bersama uang sponsor dan ia disalahkan secara sepihak. Adam bahkan harus menahan malu untuk mengantar Min Ah ke tempat peristirahatan terakhir dengan uang pinjaman. Teman yang tadinya berdiri di belakang sekadar bertemu untuk membincangkan bisnis perlahan mundur teratur, tidak ada satu uluran tangan pun ingin membantu.

Sampai, Abraham, kepala sersan kepolisian Toronto menghubungi.

Menawarkan masa depan cerah lewat anak es berasal dari Siberia, Isaak Elagin.

Dad, I’ll be okay.” Maxine tertawa renyah ketika Adam memutar langkah dan memeluk tubuhnya kembali di ambang pintu ruang kepala sekolah. “You’ll be late.”

Adam tersenyum samar sembari membenahi letak dasi pita Maxine yang sedikit kendur. “Be a good girl and remember what I said to you in the car this morning, okay. I love you, sweetheart,” tak lupa kecupan sekilas di dahi. “Please take care of her, Mrs. Smith.” Usai mendapat anggukan serta lambaian, berat hati Adam berbalik. Bahkan saat sudah menduduki kursi kemudi, ia masih memikirkan apakah pemikiran untuk memasukkan Maxine ke sekolah umum merupakan ide brilian atau malah sebaliknya.

Honey, everything’s gonna be alright, right?”

. . .

Hari pertama berada di sekolah menengah atas kejuruan, Maxine benar berbuat ulah. Awal perkenalan, semua berjalan dengan lancar sampai bel tanda pergantian kelas terdengar di seluruh penjuru sekolah. Berbeda dengan format di kelas pertama, kelas kimia mengharuskan para murid untuk membuat kelompok. Maxine, notabene tidak mempunyai tujuan selain berdiam diri di kelas, sampai lebih dahulu. Dikira kelas akan sepi, dua orang murid familiar dari kelas sebelumnya tengah berbisik kecil di salah satu meja praktek.

Kau yakin reaksinya akan berhasil,”

“Tidak. Tapi, kita harus tetap mencobanya, kan. Di mana Terry?”

“Masih di depan ruang guru untuk mengecek keberadaan Mr. Chisholm. Bagaimana, masih tidak bisa?”

“—Kau harus mencampur amonia dengan hidrogen sulfida untuk mereaksikan gas berbau tajam.”

Keduanya terlonjak kaget dengan tangan serentak memegang dada masing-masing.

Maxine kembali melanjutkan, “selain itu, udara di sekitar harus terbuka karena uapnya bisa mereaksikan ledakan.” Sejurus kemudian ia sudah membuka beberapa jendela kelas serta pintu, menjauhkan lampu spiritus dan perlengkapan praktek lain yang dapat menimbulkan ledakan.

Sementara Maxine melakukan pekerjaan, dua pria lain hanya sibuk mengangguk-anggukan kepala. Mereka bahkan tidak mendengar langkah tergesah-gesah di koridor depan, berikut jejak seperti diseret.

Mr. Chisholm,” bisik gadis itu, pelan.

Maxine mendongak, menatap dua pria lain dengan nekta lurus.

“Lee, Brian dan kau, Terry!”

Terdengar teriakan memekik telinga di ujung pintu. Mr. Chisholm, pembimbing kimia mereka telah berdiri bersama Terry di sana—ia sempat mengacungkan jari telunjuk dan tengah, tersenyum kecut. “Kejahilan apalagi yang sedang kalian rencanakan,” pria berumur matang itu melangkah lebih dalam. Lantas, iris terangnya menangkap sosok Maxine di antara dua pria yang disebutkan namanya, ia terperangah. “Bagaimana, Anda…maksudku…Baiklah, Maxine. Ikut denganku ke ruangan kepala sekolah. Kalian bertiga juga, cepat.”

*

Young Hyun menutup pintu. Ia diam beberapa saat sebelum lanjut melepas sepatu. Asrama sedang sepi, dapat dilihat dari lampu ruang tengah yang masih padam—pertanda kalau belum dari mereka keluar dari studio; minus Young Hyun karena mendadak dapat panggilan reuni dari orang yang disebut-sebut sebagai musuh. Alih-alih melompat ke sofa, Young Hyun memilih untuk mengaparkan diri di atas tegel. Berdiam diri. Menilik ke atas langit-langit ruang dengan pikiran tidak keruan. Pertemuan tadi, tentu tidak menghasilkan konklusi baik. Hanya rasa tanya yang semakin melebar dan menumpuk, bodohnya Young Hyun tidak berniat untuk mencari tahu. Ia sibuk dengan ideologinya sendiri, masa bodoh dengan pendapat orang lain yang menawarkan puluhan opsi, ia enggan untuk peduli.

“I don’t understand. What’s hate?”

*

Surat hukuman ditujukan kepada: Adam Lincoln

Maxine menatap surat berkop itu penuh senyum. Ini pertama kali ia melakukan kesalahan—meskipun tidak disengaja—tetapi reaksi di dalam tubuhnya menjadi sensasi tersendiri. “Ah, lagi-lagi Nenek tua itu memberi hukuman untuk mengecat peralatan teater,” sosok pria di sebelah kiri berseru, memancing Maxine beralih sejenak dari benda langka di tangan. “Padahal akan lebih menyenangkan kalau dia mengirimku ke klub renang, berhubung Adik kelas incaranku ada di klub itu.” Ia mendengus kuat, sedangkan Maxine hanya menatap pria itu dengan kebingungan. Kemudian berpindah pada teman satunya, di sebelah kanan.

“Itu, sih keenakan di dirimu saja. Lihat, dia mengirimku ikut serta ketempatmu. Kau tahu, kan seberapa anti aku dengan klub yang dipenuhi orang-orang aneh itu.” Matanya berotasi cepat, penuh kekesalan. Di samping lagi, temannya tertawa sengau. “Bodoh, sudah salah kau tetap saja protes. Siapa yang membuat kekacauan ini kalau bukan keahlian burukmu dalam memata-matai Mr. Chisholm. Bahkan anak baru pagi ini terseret karena ketololanmu,” iris cokelat hitamnya beralih ke manik Maxine. Gadis yang nampak polos dengan rambut lurus sebahu itu hanya meliriknya lurus.

Tahu-tahu, salah satu dari ketiga pria itu berhenti. Seolah teringat akan satu hal. Termasuk Maxine yang otomatis menghentikan langkah kakinya.

“Namamu,” pria itu mengulurkan tangan lebih dahulu. “Aku Don. Dua orang berengsek di sebelahku ini Brian dan Terry.” Kontan Don mendapat pukulan dari dua sisi. “Aw, terimakasih, Teman.” Ia menatap kedua temannya bergantian sebelum kembali ke manik pekat milik Maxine, disertai senyuman lebar. Sangat lebar sampai Terry mengira Don tengah dirasuki sesuatu yang tak wajar.

Maxine tak pernah mengerti. “Maxine, Maxine An Lincoln.” Mengapa berjabat tangan merupakan simbol dari sebuah perkenalan? Tetapi meskipun dirundung banyak pertanyaan, perlahan ia mengangkat sebelah tangan. Yang lekas disambut oleh pemilik tangan lain, “salam kenal, Max! Tidak usah dengarkan Don, dia ini berbahaya. Kalau kau ingin selamat, bertemanlah denganku.” Brian, sebagaimana dua orang temannya memanggil tertawa keras. Yang kemudian terganti oleh ringisan lantaran Don dan Terry sudah menghujani punggung pria itu dengan pukulan ringan.

Hari itu, mereka berempat mendeklrasikan diri sebagai teman.

Hate&TheIntentions(1): End

  1. Perkenalkan. Series baru dari Bangkeh (Bang Youngk) dan Maxine. Kebawa nostalgia, jadi pengen lanjutin cerita mereka lagi tetapi dengan ide yang sedikit diremajakan /? biar asik.
  2. Perpindahan waktunya agak cepet, jadi mohon berhati-hati. Kalau bingung, pegangan dulu baru lanjut baca HAHAHAHA.
  3. Terakhir, as always Thanks!!

 

Advertisements

One thought on “Hate and The Intentions (1)

  1. MAAAAAAAAAXXXXXX
    /tarik napas banyak /elus dada pelan/ KAMU BALIK, BERSAMA BANG YONGYONG PULAAAA WKWKWKWK AAAAAAHHHHH /peluk max erat rasa dibebat/disepak/

    asiiik, max diapit cowo cowo yang sengkleknya ga jauh beda dari si yongke, sabar-sabar lah kamu max. jangan sering-sering ya, ntar jeniusmu terkontaminasi sama otak ga sehat sekawan ini.
    tolong ya jen ini ngebayangin muka jail sekawan ini bawaannya pengen ngakak aja apalagi itu terry depan pintu….. kok ya idupmu bisa nyangkut sama mereka max max

    ditunggu cerita tiga idiot dan mbak otak encer ini yang lain ya jen!

    Liked by 1 person

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s