#99: Cancer

#99:

Cancer

.

Jong Hyun Lee & Sojin Park

.

“So, I drunk one, it become four and when I fell on the floor I drunk more. Nothing has changed, I stil love you, I still love you.”

—Morrissey.

.

Seoul, South Korea

2015

Shingasane bukan tempat anyar bagi kaula muda Hongdae.

Mereka punya meja bar simetris import dari benua lain, berlapis kayu pernis cakap yang tidak pernah lupa untuk dilap setiap ada kesempatan, rendeng liquor mewah dari berbagai negara disanggah oleh almari tak kalah keren serta para bartender dari pelbagai negara. Surai blonde kasar dengan manik cokelat keabuan khas, tidak berbeda jauh dengan polah wajah Jong Hyun. Mencolok, tapi ini salah satu strategi pemikat kostumer untuk datang berbondong–bondong.

Bahkan mereka memiliki ruang bawah tanah misterius. Tempat para kolektor melakukan transaksi ilegal, menjual barang–barang curian mereka dengan harga selangit. Pun, menyediakan tempat untuk para penikmat syahwat merealisasikan keinginan mereka, menyewakan budak seks dengan berbagai macam harga.

Dari belia, sampai yang hampir membusuk.

Selain itu, di sisi lain, Jong Hyun masih tidak ingin beranjak.

Ia berdiri di ambang kanopi halte bus Hongdae, menimang ponsel dengan lirikan sangsi dari iris cokelat kehitamannya. Yong Hwa bilang mereka telah sampai, duduk di dekat bar sepuluh menit lalu. Pertemuan sengaja ini memang diatur untuknya, bertujuan agar ia tidak terlalu lebih dalam menggauli kekalutan karena dapat berakibat buruk. Maka, di jam sepuluh pemuda itu menghubunginya.

Mengajak minum,

Melupakan orang yang telah membuat dirinya menjadi hina.

Yang dikatakan dapat membuat ia melupakan sosok itu. Menguburnya ke lubang terdalam, sampai tidak ada bekas maupun kenangan. Dan Jong Hyun hanya tahu kalau mereka sekadar berkenalan, tidak terikat dalam lingkar cinta setan. Di mana ia tidak bisa beranjak pergi, sekalipun telah berusaha untuk mencari jalan keluar. Memaksa pemuda itu untuk berbuat di luar akal sehat.

Tetap tinggal dan merasa sakit.

“Ditendang seperti sampah, masih berharap untuk kembali?” Min Hyuk membuka obrolan, satu gelas lowball dilempar ke arahnya bersama tawa sengau jengkel. Mulai meracuni Jong Hyun dengan gelas–gelas kecil pemuas hasrat. “Kau lebih tolol dari Keledai.” Bukan keinginannya berbicara sarkastis, tapi berbicara tanpa nada mengejek tidak akan membuat teman mereka ini sadar.

Yong Hwa enggan menambahi. Ia bukan tipe orang yang akan menyangkal dan membuat ruang menjadi panas. Bukan pemuda dengan hasrat berapi–api untuk memarahi sahabatnya. Lebih memilih untuk mengulas senyum sembari mendengarkan obrolan rancau dari mulut mereka, lalu bertindak sebagai penengah jika diperlukan.

“Sudah melupakannya?” Min Hyuk sibuk sendiri. Lebih dari para bartender di kelab itu, melayani Jong Hyun dan terus mendesaknya untuk minum berkali–kali. “Minum dapat melupakan segalanya, Hyun. Bahkan si berengsek yang sudah menendangmu itu.”

Namun respons pemuda itu tidak berubah. Sedari ia meyakinkan diri di bawah kanopi halte, bahwa ia tidak bisa. Gelengan pasti, kendati dalam keadaan mabuk. Sojin mengandrungi kotak pikirannya, berputar–putar di sekitar sana tanpa berusaha untuk menghilang. Memberikan toleransi kepada si pemilik otak agar dapat beristirahat sejenak.

“Aku tidak bisa.” Gelengan kesekian kali, “aku tidak akan bisa.”

Prompt 2: End—

  1. Pasangan favorit yang masih membara dalam hati saya. Masih menunggu Sojin solo terus, kalau-kalau mereka proyekan bareng ㅠㅠㅠ
  2. Terimakasih!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s