#98: A New Friend

#98:

A New Friend

. .

Christopher Lee & Dakota Graham

. . .

Been waiting for long time under Kick & Jass Pub’s canopy, Chris cut off his friendship with Yorkshire Immediately. But, He got new friend from Paris, France.

Saya pernah berharap Anda akan datang. Benar, menemui saya. Melengkungkan garis mata, menyambut eksistensi saya di dunia ini. Tapi, Anda tidak. Anda lebih memilih jalur memutar—atau paling tidak, melubangi jalan baru. Masuk ke dalam dan tidak pernah menemui saya di ujung sana. Anda biarkan saya berjalan gontai, penuh harapan—meski tahu, bahwa Anda tidak akan menemukan saya.

Tapi, jika saya mundur beberapa langkah. Kemudian menemukan lingkaran yang Anda buat lalu ikut berjalan pada tapak yang sama, akankah saya menemukan Anda?

. . .

Skotland telah memasuki musim semi, angin sepoi berhambur dan terkadang rinai hujan membasahi sebagian pemukiman di Edinburgh. Seperti senja ini, bulir-bulir halus telah melakukan parade. Nyanyian pelan dari gemericik hujan, tak diperdulikan oleh lelaki yang masih mempersempatkan diri untuk berteduh—dalam kanopi milik kelab. Dia agak bersyukur masih ada pihak yang ingin berbagi sesama—maksudnya, berbicara soal tempat berteduh, England bukan tempat yang tepat untuk dibicarakan. Berbeda hal ketika dia bermukim di negara Asia, setidaknya mereka akan dengan senang hati menawarkan pelbagai bantuan; dari teh celup sampai obrolan tanpa batas.

“Menyebalkan, ya,”  Christopher menoleh. Suara ringan dari arah barat telah membius atensinya, terketuk untuk sekadar mencari tahu siapa orang yang secara akrab mengajak berbicara. O, Laki-laki rupanya. “Oh, Halo. Maaf saya tidak sopan ya mengajak anda mengobrol seperti ini.” Lekas pria itu meneleng, kurang setuju. Sebatas mengobrol meski tidak kenal satu sama lain bukan bentuk dari ketidaksopanan.

“Dari Perancis?” Terkanya. Mundur beberapa langkah, hendak menyamai garis tegak si lelaki asing agar terkesan santai. “Oh, anda tahu. Pasti aksen saya ketara sekali. Nama saya Robin,”  Christopher tersenyum, ikut mengulurkan tangan. “Christopher. Anda sedang menunggu seseorang?” Imbuhnya, membuka tajuk baru. Siapa sangka dia akan mendapatkan teman obrol dalam keadaan seperti ini.

Robin mengangguk. “Ya, Istri saya. Anda sendiri?”

“Teman sekantor. Mungkin sebentar lagi menjadi mantan,” seloroh Christopher dan membuat si pendengar terpingkal ringan. “Ahaha. Ternyata dia memang benar, orang lokal di sini gemar melempar guyonan dan ramah. Menyenangkan ketimbang di Paris, anda tahulah, serius adalah tuntutan utama.” Robin menoleh, “istri saya yang mengatakan. Omong-omong, Tuan Opher—boleh saya panggil seperti itu?”

“Ya, Opher. Kenapa tidak? Saya sudah terbiasa jika dipanggil Chris atau Christop.” Sahutnya, bergidik bahu. Tidak masalah. Bahkan Yorkshire seringkali memberi nama panggilan aneh, Opher belum seberapa. “Ah, Anda ingin berbicara apa tadi?”

Tahu-tahu terdengar nada dering dari dua arah. Lekas pemiliknya tergopoh-gopoh meraba diri, mencari benda pipih dalam ceruk kantung kemeja. Kemudian setelah ketemu, mereka menukar tatap dan tertawa.

Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

“Ya, Honey,

“Sudah di mana sialan?”

Adalah sapaan pertama yang terucap dari bibir keduanya. Tapi si pria Perancis nampak kalah romantis karena Christopher sudah mengeluarkan kata umpatan penuh kasih sayang. Terdengar kontras sih dari dekat, namun kalau sedikit mundur ke belakang dan menatap pemandangan itu, Christopher tak ubahnya seperti seorang kekasih yang melampiaskan kerinduan lewat telepon genggam.

“Sayang sekali, saya harus pergi.” Ia menekan kalimat lebih dahulu sembari menunjukkan ponsel. Tepat saat Robin telah selesai bertukar komunikasi. “Dia tidak bisa datang kemari, ada segerombolan Scottish lewat. Tidak logis, sih. Saya tidak tahu apa dia layak disebut teman setelah ini.” Masih ada sisa tawa meski Christopher telah membakar diri dalam batin. Ia kesal, tentu. Apa maksud laki-laki itu mengatakan kalau mobil tidak bisa melintasi jalan hanya karena segelintir Scottish menyebrang?

Gila,

Dia punya teman sungguh tidak berakal sehat.

Robin mengangguk paham. “Padahal Istri saya baru saja menghubungi kalau sudah ada di dekat sini. Mau saya kenalkan pada Anda, siapa tahu kita bisa jadi teman dekat.” Katanya, agak menyayangkan. “Mungkin lain kali. Ya, saya akan senang jika bisa bertemu Tuan Opher di lain waktu.”

“Begitu juga saya.” Christopher mengulurkan tangan.

Mereka berjabat, saling tersenyum dan usai mengucapkan perpisahan ia melangkahkan kaki berlawan arah. Hujan masih rintik-rintik, hanya sebatas tas kulit sintetis dapat Christopher gunakan untuk menutup kepala. Yorkshire bilang, dia akan menunggu di blok dekat pusat perbelanjaan Princess tak jauh dari kastel Edinburgh. Tergopoh-gopoh pria itu mendekati bahu jalan penyebrangan agar tak tertinggal karena daerah ini terkenal dengan sistem traffic light lumayan lama—sekitar limabelas menit.

Dan ketika bunyi tanda pergantian lampu memekak kuat, ia melangkahkan kaki kembali dan dibuat terhenti di tengah jalan.

Penyebrangan ini menjadi saksi bisu, bahwa;

. . .

Saya pernah berkata, bukan.

Saya pasti akan menemukan anda.

Pasti.

Prompt 3: End

  1. Thanks!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s