#97: Wound

#97:

Wound

. . .

Christopher Lee & Dakota Graham

. . .

It wasn’t ended near traffic jam or couple years ago. They decided to meet again, in cafe. Talking about past, about mistakes.

Edinburgh,

Late Autumn.

Saya tidak pernah berharap untuk bertemu anda kembali.

“Begitu pula saya,” sore itu, keheningan yang terlaksana seperapat menit lalu terpecahkan. Lee memulai. Setelah Earl greynya mendarat di atas meja, melayahkan asap nyata yang lekas menghilang.

Skotland telah memasuki musim semi, angin sepoi berhambur dan terkadang rinai hujan membasahi sebagian pemukiman di Edinburgh. Seperti senja ini, bulir-bulir halus telah melakukan parade. Nyanyian pelan dari gemericik hujan, tak diperdulikan dua insan yang masih mempersempatkan diri untuk saling sapa—bertukar lirik—meski nyaris delapanpuluh persen diketuai senyap.

“Anda sehat?” Agaknya Graham bertindak gesit, beralih pada topik lain. “Dengar-dengar, tubuh anda sering collapse. Masih terluka parah?” Lee menahan napas. Pelipir cawan yang hendak menyentuh bibirnya, dia jauhkan kembali. Pemuda semampai itu tahu, dia tidak akan bisa bernapas bebas, Graham tidak akan melepaskan buruan seperti dirinya dua kali. “Tidak lebih sehat dari anda, er—Nona Graham. Dan tentu, luka selalu meninggalkan bekas, bukan.”

Alis Lee berjingkat, dua kali. Decakan kuat dari gadis di depan menarik atensinya, menatap Graham sayu. “Saya senang mendengarnya.” Jawabnya. Lee nampak tak heran, sesuai perhitungan. “Mengapa anda tidak mati sekalian?” Imbuh Graham, menimbulkan lengkung simpul serta anggukan pelan dari si pria.

“Itu urusan Tuhan.” Singkat. Akan lebih singkat lagi kalau gadis itu masih hendak mengobarkan bendera perang. Lee tidak akan segan untuk beranjak dan pergi. “Nampaknya anda masih penasaran dengan kehidupan saya.”

Graham mengeryih. “Dengan orang yang membuat saya menderita? Anda sinting.” Dia beralih arah pandang, mengamati lingkungan luar jendela. “Mungkin saja. Dulu anda mencintai saya,” Lee memutar keadaan. Kini pemuda itu tampak bersemangat, terpancar dari kilat aleksandrit yang terkena bias lampu Cafe—baru saja dihidupkan, lantaran awan hitam telah mendominasi langit. “jika luka saja membekas, perasaan yang tidak diketahui pastilah tetap menyisahkan sesuatu.”

Prompt 97: End

  1. Ini lanjutan dari A deep cut. Waktu Christopher ngeliat orang yang berdiri di belakang Yorkshire. Akhirnya, cerita mereka selesai juga. Sengaja saya potong di sini, biar asik /halah alasan/ ditunggu cerita lainnya ya!
  2. Thankss!!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s