[2] Down Town

Isama Yasu x Park Sojin

. . .

D O W N  T O W N

. . .

‘Anda banyak bicara.’

Eden Cafe, Okinawa

Japan

“Anda banyak bicara.”

Ano2…,”

Sojin menghela napas, kedua tangannya menumpuh di pinggir konter. Mata gadis itu memejam geram, andai kata ia punya keberanian untuk melempar wajah sok polos milik pria ini, Sojin tidak akan memakan waktu lama untuk berpikir dan tak segan melempar segala macam benda yang berada dekat tangannya. Oh, benar. Pria aneh itu benar-benar bertandang ke Eidencafe tempat Sojin bekerja sekarang—dan beberapa pelayan lain tampak mengenalnya secara akrab, seolah hanya Sojin yang terlihat aneh karena tak tahu-menahu mengenai pelanggan tetap yang sedari tadi terus menerus bergumam menatap menu board.

“Sojin-san, suka apa?” Sekonyong-konyong gumamnya berhenti, terganti oleh pertanyaan beriring senyum lebar. “Bisa tolong berikan pilihan? Saya bukan pemilih yang handal, saya sedikit pasif dan lebih senang jika ada orang yang memilihkan saya sesuatu. Jadi menurut Sojin-san, saya harus memilih apa?” Sojin kembali menegakkan tubuh, berbalik arah, memandangi papan menu.

Meja kasir menjadi senyap. Hanya alunan musik pop berkoar dari speaker yang terpasang di setiap sudut cafe, selain itu desas-desus stabil di beberapa meja pengunjung. Yasu memiringkan kepala, bergantian menatapi papan menu dan setengah wajah Sojin dengan dahi berkerut, nyaris mengikat kedua alis tebalnya dalam satu garis lurus. Namun kemudian gadis itu berlenggang ke perangkat minuman, meracik sesuatu; meraih cup berukuran medium, bubuk, cairan serta ice cube, taburan topping, dan menaruhnya tepat di depan wajah si peminta.

“Karnaval.” Sojin berujar santai, bersamaan kedua tangan yang sibuk bergerak di atas keyboard mesin kasir, menghitung berapa yen yang perlu Yasu keluarkan untuk menyusahkannya satu jam belakangan ini. “Anda senang berbicara, mencampuri urusan orang sesuka hati, pemaksa, meski anda berbaik hati meminjamkan payung tapi tetap saja Anda menyusahkan orang lain. Dan sayangnya, Anda—“ Jenak menyergap, perujarannya mengantung di tombol enter. “…pasif.”

Pria itu mengerjap, sekali—dua kali. Sedangkan Sojin, memangut. Kembali ke alam bawah sadar, termenung menatap rembesan air yang berjatuhan dari cup medium dekat jemari Yasu. Kata pasif mengingatkan dia akan sesuatu, luka lama, separuh membekas. “Seperti pusat kota. Anda tahu? Gemerlap lampu, dentum speaker dengan lagu upbeat, tengking ria dari khalayak dan sebagainya.” Ujar Sojin, kepalanya terangkat setengah. “Minuman ini, mewakilkan polah anda. Anda punya warna di dalam, tapi tertutupi oleh gelapnya cokelat.” Tangannya menyentuh tombol enter, lantas meruak lenting mesin mengisi kekosongan. “Tiga ratus yen—“

Sugoi3. Seperti biasa, Sojin-san mendeskripsikan dengan baik. Saya senang mendengarnya,” Yasu mengembangkan senyum. “Rasanya titel pekerja teladan setiap bulan memang pantas untuk Sojin-san. Ah, ya. tiga ratus yen, bukan? Sebentar…” sementara pria itu sibuk merogoh berbagai kantung pakaiannya, Sojin melepas pengikat apron.

Ano, Sojin-san…,”

Sojin mendongak, kemudian disambut senyum gigi dari pria di depan. “Bisa tolong saya?” Untuk kesekian kalinya, dia menghela napas. Baru dua hari bertemu, dan orang ini sudah membuat Sojin mengaktifkan kembali para saraf-saraf emosi yang telah terbenam mati dua tahun ini.

* * *

Yasu, Yasu.

Sojin terdiam. Kedua iris sayu yang sedari tadi menelusuri bodi monorail yang silih berganti, kini berhenti pada rel yang kosong. Meski otaknya disarati oleh benang sengkarut, dia masih berusaha memberi ruang berpikir untuk mengetahui siapa orang asing di balik nama Yasu. Teman masa kecil? Tetangga sewaktu di Daegu dulu? Murid vokal di Ulala session atau sewaktu di akademi Yokohama? Semakin dalam Sojin mengeruk masa lalu, semakin dia mendekatkan diri pada lubang menganga di dalam hatinya. Yang masih haus akan darah kebahagiaan, memperkaya tangis kesedihan dan memperkeruh pengelihatannya akan kecerahan di luar sana.

Monorail kembali lewat. Sojin tersadar. Dia meneleng sebentar, meyakinkan diri bahwa dia tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui orang asing bersifat pasif itu sebelum kembali melangkah. Sojin hanya perlu berpikir bagaimana cara untuk cepat sampai ke terminal utama Okinawa dan tidak menghanguskan tiket untuk kesekian kalinya.

. . .

You used to say that I look like a rural. So quiet and stiff.

Down Town: End

Notes:

Ano: Er…

Sugoi: Luar Biasa

  1. I think, from my preseption why Sojin never noticed Yasu as a regular costumer at Eiden because she only sees at the ground, I mean she always thinks about the past and not focus during the day she’s working at Eiden. So perhaps, that’s why she didn’t see Yasu there. Right? Hm, Intresting.
  2. Thanks!!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s