From Earth to The Moon

WINNER’s Kim Jin Woo and OC’s Anna Kim

.

From Earth to the Moon

.

Aku tidak bisa menjanjikan titik

tapi kalau berkoma, tempatku selalu terbuka

Sanggup?

.

Anna terbangun lagi.

Hampir fadjar, namun langit masih berwarna hitam. Ia menyibak selimut pelan, beranjak sembari menggosok mata, menggeser pintu berkisi dan menengok ke arah sosok pria yang terduduk di pinggir ubin. Kali ini surai cokelat menyentuh punggung itu terbiarkan terurai, berkilat indah begitu mengenai lampu pijar yang mengantung di ruang tengah.

“Maaf, terbangun lagi, ya?” Si pria berujar santai, memutar tubuh sembari menaruh sepasang sepatu boots bertelapak cukup tinggi di atas rak. Kemudian beranjak mendekati meja pendek dengan tangan kanan melepas rambut tiruan yang ia beli dua hari lalu. “Sekolahmu bagaimana? Aku mendapat telepon dari wali kelas kalau kamu kembali bertengkar lagi dengan anak itu.”

Yang diajak bicara masih diam. Merunduk, menatap para jemari kaki yang mengetuk berirama di atas ubin. Dalam hati merutuk. Bagaimana Miss Heon mendustai janji yang dibuat tadi sore begitu ia keluar dari ruang kepala sekolah.

“Anna?”

Berat hati gadis itu membuka mulut, “iya, Oppa.” Sedikit demi sedikit mengangkat kepala, membaurkan manik cokelat–kehitaman sembari mengembungkan mulut. “Tapi—tapi dia,” Anna mendengkus kuat. Mengambil jeda sebelum kembali berujar, “dia bilang Oppa itu bukan laki–laki. Dia bilang kalau Oppa itu sampah, dia—dia…hiks, hiks. Dia bilang Oppa menjual diri untukku…”

* * *

Jin Woo gemar berpoles. Ditambah pola wajah manisnya yang mengalahkan ratusan perempuan di angkatannya dulu.  Alasan mengapa ia mengambil kesempatan ini untuk meraup uang. Ia bukan si pintar, si pemikir cerdas yang tidak pernah mau kalah dengan rumus-rumus alogaritma atau pengambil alih ranking pararel. Jin Woo hanya pria muda acapkali melempar senyum, punya kulih putih susu kenyal dan surai cokelat berkilat. Memiliki satu adik perempuan berjarak tak lebih dari tiga tahun, lalu keluarga yang telah pecah belah.

“Maaf,” mereka berdua duduk di bench Cheongdam, terpisah oleh jarak limapuluh sentimeter ditemani oleh gemericik bulir-bulir hujan yang menyentuh kanopi halte. “Maafkan aku.”

Jin Woo kira Anna tidak akan membuka obrolan. Lantaran mereka sudah berdiam diri sejak memutuskan untuk berteduh lima jam lalu. Kali ini ia terpaksa berlarian dari kelab, masa bodoh dengan pakaian setengah terbuka dan sepatu bertelapak tinggi nyaris membuat ia terguling di anak tangga stasiun kereta. Menjemput adik bungsunya di departemen kepolisian Cheongdam karena terlibat perkelahian untuk kesekian kalinya.

“Aku kira kamu akan mengabaikanku sampai pagi,” pria itu terkekeh lantas mengangsurkan tangan dan menggerakkan keempat jarinya sebagai kode agar Anna mendekat. “Kemari, limapuluh sentimeter bukan jarak wajar untuk orang yang tidak bermusuhan. Aigoo, aku tidak tahu kalau perkembanganmu akan pesat seperti ini, Anna. Kalau di umur tujuh tahun kamu membuat temanmu menangis, lalu di umur empatbelas lebam, apa nanti sewaktu tujuhbelas tahun kamu buat dia sekarat?” Jin Woo terbahak, mengacak pucuk kepala gadis itu kasar. Yang mana membuat dia ikut melebarkan senyum.

Oppa terlihat cantik hari ini,” ia merapikan juntaian rambut panjang Jin Woo yang sengkarut. Melepaskan juga almamater sekolah, membalutkannya ke tubuh pemuda itu. “Geurae? Kamu suka aku yang cantik atau aku yang tampan?” Anna bergumam lama, lalu menelengkan kepala sembari menahan senyum.

“Aku suka Oppa apa adanya.”

Iris pemuda itu melebar, namun lekas tergantikan dengan senyuman. “Terimakasih.”

* * *

Hari itu Anna tidak pulang.

Sepanjang hari Jin Woo menghabiskan waktu untuk mengeliling sekolah, juga di tempat gadis itu terbiasa menghabiskan waktu; karaoke, sauna, atau cafe–cafe sempit di daerah Songpa. Namun pada akhirnya, ia malah menemukan si bungsu di atas genting rumah tetangga. Tertidur pulas dengan muka membengkak karena menangis seharian.

“Hei, pembunuh yang nyaris bunuh orang,” pria itu memanggil pelan, duduk di samping Anna yang terkapar. Tidak ada respons, ia menarik lengan baju seragam gadis itu kemudian menendang jungur sepatu sneakernya. Tapi begitu tidak ada jawaban juga, Jin Woo menyerah. “Baiklah. Maaf, ya, aku baru menemukanmu. Maaf juga, aku tidak bisa berbuat apa–apa.” Ia menghela napas, lalu menengadah menatap tingkap langit tengah malam. “Tapi Anna, bertengkar seperti ini bukan berarti akan membawa titik untuk mereka.”

“Dengan memilih jalan ini kamu terlihat buruk. Ini buka kemenangan. Kamu bukan juara jika berhasil membuat salah satu dari temanmu kritis di rumah sakit.” Terdengar helaan napas berat. “Dan kamu tahu, polisi sudah datang ke rumah dan memintamu untuk segera melapor. Hah, aku tahu pekerjaanku terlalu sulit untuk diterima tapi dari awal aku sudah mengatakan padamu, kan, Anna?” Jin Woo menjungkitkan salah satu ujung bibirnya, geli karena tahu gadis di sebelahnya ini tidak benar-benar tidur. “Aku tidak bisa menjanjikan titik, tapi kalau berkoma, tempatku akan selalu terbuka.”

Ia kontan beranjak. Melakukan pemanasan singkat sembari membersihkan debu-debu yang menempel di balik jeans dongker yang dikenakan. “Aah, ayo pulang dulu, dan pikirkan masalah ini. Kamu bisa terkena flu jika tidur di sini sampai pagi. Nah, hari ini aku akan buat tofu pedas sebagai permintaan maaf, bagaimana?” Jin Woo baru saja ingin menoleh, sekonyong-konyong ia sedikit terhuyung ke depan karena Anna lekas berdiri dan melingkarkan kedua tangan di pinggangnya. Sangat erat, sampai ia dapat melihat pergelangan gadis itu memerah.

“Anna…?”

“—Aku benci mereka, Oppa, aku tidak suka mereka. Aku kesal karena mereka sesuka hati menggambarkan Oppa sebagai kotoran!!!” Anna terbatuk, air mata serta jerit tangis tak henti-hentinya memenuhi gendang telinga Jin Woo. “Aku—hiks, aku…,” ia menarik tubuh, melepaskan pinggang pria itu dan menyekah bulir-bulir air yang masih mengalir. “Aku akan pergi melapor hari ini. Maaf merepotkan Oppa terlalu banyak, juga hal-hal lain yang tidak Oppa suka dariku…”

Anna mengulum bibir, mencoba mengulas senyum tapi pemaksaannya malah membuat ia kembali menangis. “A—aku, pasti akan merindukan Oppa, sangat—pas…pasti.” Sekali lagi gadis itu mengusap wajahnya, “aku sayang Oppa.” Dengan lamban ia beringsut menjauh, bermaksud mendekati pintu keluar.

“Hei, Ann.” Jin Woo menghirup napas, “mau buat masalah denganku?”

.

.

Senin, dini hari. Seorang siswi bernama Han Yoo Jung, 18, ditemukan tewas.

.

.

Sanggup.

Tapi aku juga tidak bisa menjanjikan koma,

Melainkan titik yang berkepanjangan

. . . . .

FROM EARTH TO THE MOON

‘MENCINTAIMU SAMPAI MATI’

.

.

From Earth To The Moon: End

  1. Genre Family sedikit menggemaskan ini favorit sayaㅠㅠ meskipun waktu itu bikinnya asal-asalan karena masih mabok Writer’s Block.
  2. Yah, begitulah kura-kura. Terimakasih!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s