#100: A Deep Cut

#100:

A Deep Cut

.

Christopher Lee & Dakota Graham

.

“Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory.”

—Dr. Seuss

.

Edinburgh, Scotland

Saya dengar Anda meringkuk di balik distrik Edinburgh. Ya, dekat National Memorial, menguras tenaga dalam ruang berpetak tak lebih dari cinta Anda kepada saya—tempo lalu. Masih ingat saya? Ebonit. Pemilik paras kelabu, buruan para gadis jalang, senantiasa tersorak, bahan friksi tanpa muara dan santapan liar bidikan. Mungkin Anda lupa atau kesengajaan yang selalu Anda lakukan, memoar Anda pada saya terhapuskan oleh pria semampai berdarah France itu.

“Anda hanya kesepian.” Yorkshire, tahu cara membuat saya tersenyum simpul. “Atau mungkin, hukum karma yang selalu Evans bicarakan benar adanya.” Ya, Evans Willies—teman satu kantor, mempercayai najum, berkeyakinan takhayul. “Oh, ayolah, ini bukan tentang takhayul, kok. Anda keterlaluan, berpikir tidak-tidak. Lagipula, Anda sendiri yang menjual harga diri terlalu mahal.”

Menjual diri terlalu mahal?

Sialan Anda, Yokshire. Saya bukan bahan loak yang sering mereka jemur di atas kain!

“Itu hanya untuk meyakinkan.” Ujar saya, tidak mau disalahkan. Apalagi disandingkan dengan jualan pasar. Yorkshire memeletkan lidah, tak terkesan sama sekali. “Umur saya tiga tahun lebih tua.” Bahan penambah, tapi pria pembisnis itu malah melengoskan kepala tidak acuh. “Saya terluka parah, Yorkshire! Anda seharusnya tahu bagaimana kisah flegmatis seperti saya ini ketika ditinggal oleh orang yang dicintai seumur hidup. Ayolah, Anda pasti mengerti.”

Dia menoleh. Masih menatap malas. Tangan yang bersembunyi di balik ceruk celana, kini melipat di dada, “jadi, Ibunda Anda yang patut disalahkan? No, excuses. Anda itu laki-laki, Anda harus tahu cara bersikap dewasa. Anda bilang, Anda lebih tua tiga tahun.” Yorkshire tidak pernah mau mengalah ketika perdebatan kami kian memanas. Dia selalu begitu, memutar kata demi kata, memojokkan saya pada sudut vertikal lalu tanpa sengaja, dorongan pelan dari tatapan santainya, menjatuhkan saya ke dalam jurang. “Dakota pasti masih menunggu Anda.”

“Tidak mungkin.”

“—Chris! Berhenti, deh.”

“Saya tidak butuh konklusi najum dari Anda, Yorkshire.” Keluh saya, memutar kedua bola mata. “Apa lagi, York? Jangan menatap—“ Seketika dunia berbalik tempat. Titik pupil pria sialan itu berpindah ke suatu tempat, bukan milik saya, sesuatu di belakang dan tanpa hitungan—bodohnya, berkompromi dengan pikiran—saya memutar kepala dan terhenyak bisu.

Prompt 1: End

  1. Proyek lama dulu, sempet berenti karena sibuk sama tugas kuliah. Tapi karena semester dua agak senggang gitu, saya coba lanjutin lagi. Sekaligus ngasah tulisan lagi 🙂
  2. Yorkshire itu, minta dipanggang idup-idup emang.
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s