[1] Indigo

Isama Yasu x Park Sojin

. . .

I N D I G O

. . .

‘Pahit, namun dapat menyembuhkan penyakit.’

Okinawa, Japan

“Hujan lagi, ya?”

Sojin menoleh. Minatnya berangsur terpacing, meski tadi telah berusaha keras agar tidak melahap nafsu untuk menoleh, memberi atensi ke pria aneh di sebelah. Ia mengedarkan pandang, lebih lebar ke sudut kiri dan kanan, mencaritahu apa orang ini tengah berbicara dengan seseorang bukan dirinya. Namun nihil, tidak ada seorang pun selain dia di sana. Lagi-lagi Sojin berbuat bodoh, lupa membawa payung kendati tahu bahwa cuaca tidak dalam keadaan baik dari repoter kacang yang acapkali menegur sapanya saban fadjar dalam bingkai teve. Itulah mengapa Sojin terpaksa harus berlindung di bawah kanopi milik halte Shinjuku, termasuk merapal doa agar segera rinai panjang ini berhenti lebih cepat dan terjebak dalam atmosfer aneh dengan orang yang tak berhenti berkicau rancau.

“Saya benci hujan…,” imbuh pria itu, lagi, tanpa menoleh. Iris hitamnya masih menatap lurus, ke titik fokus gerai seberang. “Tapi saya tidak bisa meminta Tuhan untuk menghentikan hujan, nanti orang bisa susah karena saya.” Ia menolehkan kepala, mengulas senyum ramah. Sedangkan Sojin terpaku, otaknya bergerak lambat, perlu mengurai lambat-lambat perucapan pria tadi dan mengapa kini sosok asing itu malah melemparkan tarikan sudut bibir ke arahnya. “Anda, bagaimana? Anda suka hujan?”

Gadis itu tak menjawab.

Masih terperangkap pada pertanyaan-pertanyaan aneh di dalam benak. Tapi kalau dipikir-pikir, ini pertama kali Sojin bertemu pria ini di sini. Ah, atau mungkin ia tidak pernah sadar tapi bisa saja pria ini memang sudah ada namun tidak pernah menunjukkan wujudnya. Meski prawakannya tampak seperi mahasiswa; kaos dead metal berlapis kemeja kotak lebar terbuka, kemudian jeans denim pekat sedikit robek bagian dengkul, setelan boots sewarna celana, juga rambut harajuku sebahu terpotong rapi. Tidak tampak seperti kriminal yang berseliweran sepanjang malam seperti yang ia lihat di film horror atau sang pengeksekusi di film thriller.

“Saya benci terlibat dalam obrolan dengan orang asing,” Awalnya, ia tidak bermaksud untuk tidak sopan tapi masuk terlalu jauh dengan cara meladeni obrolan orang tidak dikenal juga bukan hal baik. “karena saya tidak tahu, Anda itu siapa dan bagaimana.”

Pria itu bergumam, mengangguk paham sembari berbalik arah menghadap Sojin. “Kalau begitu, kenalkan dulu,” masih dengan senyum yang membingkai, ia mengulurkan tangan. “Panggil saja Yasu. Anda Park Sojin, kan?” Yasu kembali bergumam begitu Sojin lagi-lagi menatapnya dengan bola mata bulat aneh. Mau tak mau, bibir tipisnya terangkat membentuk muka cemberut dengan garis-garis tebal mulai timbul di dahinya. “Saya salah satu pelanggan tetap di cafe kopi tiga blok dari sini, berplakat Eiden, dan saya sering melihat anda di dalam bingkai pekerja terbaik setiap bulan. Nama dan foto anda ada di sana, bukan?”

Sojin memaling, baru sadar jika ia tengah berhadapan dengan orang tidak beres. Gadis itu kontan merunduk dua kali, merapal kata cepat, “maaf, saya harus pergi. Saya masih punya banyak pekerjaan, selamat tinggal.” Buru-buru ia memutuskan antara menembus hujan deras yang dapat mengakibatkan ia terkapar di atas dipan dan tidak dibayar selama seminggu atau menarik ulang perkataannya. Melihat bagaimana rintik-rintik sialan ini masih mengeriyangi jalanan.

Ma~a1, sebentar,” Yasu mengeluarkan sesuatu di balik tubuhnya, kemudian mengulurkan tangan kiri yang memegang payung Indigo ke arah Sojin. “Saya benci hujan, dan saya lebih benci lagi jika harus terkena hujan. Bagi saya, memakai payung atau tidak sama saja. Saya akan tetap terkena hujan. Jadi Sojin-san bisa memakainya, ambilah.” Usai memaksakan kehendaknya, Yasu mundur beberapa langkah. Kembali duduk di bench Shinjuku dengan sudut-sudut bibir menjungkit indah melambaikan perpisahan pada Sojin. “Sampai bertemu besok, Sojin-san.”

Gadis itu mengerjap, terpana sendiri melihat payung indigo bertengger di jemari ringkihnya. “Kenapa saya harus bertemu dengan anda besok? Maksud saya, untuk apa?” Bagaimana bisa Sojin menerima pemberian pria asing itu, atau jangan-jangan dia memang sengaja meminjamkan payung untuk dalih bertemu besok dan—ah, tidak-tidak, Sojin rasa akal sehatnya sudah terlampau berada di luar batas.

“Omong-omong, Sojin-san bilang harus pergi dan punya banyak pekerjaan, kenapa masih ada di sini? Saya tidak akan meminta balas budi,” wajah Sojin berubah masam. Bukan itu jawaban yang ia minta. “saya hanya akan bertemu dengan Sojin-san besok, besoknya, lalu besok, dan besok, besok la—“ Yasu mengeryit. Tahu-tahu gadis itu sudah setengah jalan menjauh, membaur bersama para gerimis di bawah payung indigo. Membelakanginya dengan punggung mungil pemikul beban berat.

* * *

Sojin buru-buru melangkah ke pelataran bangunan officetel, menutup payung—sedikit menguncangnya agar bulir-bulir air yang tersisa turun—kemudian, tak lupa memberikan salam kepada petugas penjagaan di balik meja informasi sebelum menghilang ketika dua sisi pintu lift terkatup rapat. Ia masih merasa rapik, masih tidak dapat mengalihkan mata dari belakang—oh, bisa saja jika pria aneh tadi masih mengikutinya. Dan juga, payung dengan perpaduan warna sama-sama bertolak ini, Indigo. Bahkan ketika Sojin sudah berada di depan pintu kamarnya, dia sempat mengerling berkali-kali sebelum memasukkan komplikasi angka dan menghilang di pintu berplakat nomor 513.

Steker otomatis menyala ketika kakinya menginjak ubin lorong penghubung ruang utama, menerangi seluruh ruang dengan cahaya emas temaram. Seketika ia terjerembab, namun berusaha mengulas senyum walau terasa lebih menyakitkan. Rupanya, menghibur diri tidak semudah yang dia bayangkan. Tidak mau roboh, Sojin lekas beralih ke pintu kedua, memasuki kamar dan merapal doa agar hari ini Tuhan mau memberikan sedikit waktu untuk dia merasakan tidur seperti orang normal.

Gadis itu lupa, terlampau amnesia bagaimana cara menjalani hidup.

. . .

It was red, but now all I can see is blue.

Indigo: End

  1. I don’t want to throw this plot, so I decided to post it again. I think this is the fourth times but anw, even though I got the inspiration from one of the best novel that I’ve ever read and has little bit same plot, but I still want to continue to finish this story. Its about Grim Rapper from Japan or they called it; Shinigami. I don’t want to give you guys any spoilers but I recommend it well if you have spare time. (Sorry I forget the title and author name)
  2. Soooooo, please don’t give me brick and enjoy!! Thanks!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s