I Don’t Love You

Choi Jaeng Hoon

(Jack Percy)

. . .

I  D O N ‘ T

LOVE  Y O U

. . .

“Friends can break your heart, too.”

Ashleigh Catibog-Abraham, There’s Nothing Left to Save

Address:

Songpa’s Police Station, Garak-dong
Seoul, South Korea
06:45 PM KST

Lama ia tidak mencium aroma keadilan berlarut kriminalitas di sini. Hampir setengah hidupnya dihabiskan untuk bertaruh nasib sebagai sersan kepala dan dua tahun lalu, semua harus ditutup rapat-rapat dalam ingatan. Ia tanpa sengaja melewati daerah ini, tadi ingin menyambangi pasar tradisional Garak untuk membeli bahan makan malam tapi karena teringat akan suatu hal ia jadi membelokkan kaki kemari.

“Oh, Kepala Choi!”

Yoon Seo Han, hasil picingan mata ke arah name tag pria itu. “Anda ingin melaporkan sesuatu?” Pria itu bertanya usai melakukan sikap tegap dan hormat. Yang lantas ditepis olehnya, “bukan. Hanya mampir, tidak sengaja lewat kemari.” Mulut Seo Han berubah bulat, sahut mengerti akan maksud dari perucapan barusan.

“—Er, sebenarnya,” Ki Joon berdeham. Tangan yang sedari tadi bertaut di belakang ia angsur ke depan bersama dengan selembar foto. “Bisa aku minta tolong?” Polisi muda itu mengangguk cepat. “Ini. Pria muda ini, dia selalu berbuat masalah di sekitar sini tiga tahun lalu. Hari ini dia pulang dan akan kembali menetap. Tolong kau penjarakan dia kalau melihat pria ini berkeliaran dengan perempuan, oke. Mohon bantuannya.” Ia merunduk, cukup dalam.

Seo Han tersenyum. Tahu akan kebiasaan Ayah dan anak itu di masa lampau.

“Laksanakan!”

. . .

March, 28th 2015

Address:
Jaeng’s Flat, Songpa
Seoul, South Korea

Ia teringat sesuatu. Pelataran flat bobrok dekat distrik Songpa, pernah menjadi kilasan lampau dengan sejuta memoar. Gedungnya agak jauh dari jalan utama menuju arah barat, dihimpit dua pasar tradisional, diharuskan memasuki beberapa gang sempit dengan aroma sengat dan kalau sedang tidak beruntung, akan ada segerombolan rentenir memblokade jalan. Belum lagi kalau hujan, air selokan akan merembes tinggi sampai-sampai jalanan itu dijadikan wahana arum jeram. Namun meskipun begitu, tempat ini akan selalu menjadi ruang waktu bersama teman seperjuangan dulu.

Pria itu mengeryih, perlahan memutar kenop pintu. Ada derit halus yang ia tunggu dan setelah terdengar, tarikan ujung bibirnya semakin terangkat luas. Ia mengedarkan pandang, petak ruangnya masih sama; trapesium dengan jendela tepat menghadap ke sungai Han Gang. Tegel berwarna cokelat, oh, bekas noda ramyeon tempo hari pun tetap ada. Lebih dalam kaki pria itu melangkah masuk. Kini menghadap ke gerobok baju dengan tangan ikut terangsur untuk membuka salah satu pintu. Ingatannya kembali melesak—lumayan jauh—walaupun kisah lampau, kebiasaan itu tetap dilakukan sampai sekarang; menyembunyikan perempuan di dalam sana.

Lalu, Kei akan selalu menjadi orang pertama menangkap basah hobi buruknya itu.

Jack menengadah. Tanpa sengaja mencetuskan nama itu dalam benak padahal telah berjanji habis-habisan ketika berada di stasiun. Tidak ada adegan menyebut nama teman lampau karena akan berefek buruk, ia semakin dibuat merindukan sosok cebol itu. Lekas pria itu menutup pintu, berjalan keluar. Berada di sini hanya akan menimbul bendungan di kelopak mata.

Brak,

“—Aduh!”

“Aww—ah, ah!! Tteobokkiku!”

Pria itu meringis. Hantaman antarkepala itu cukup membuat otaknya pening sepersekian detik, ia pun baru bisa melihat si lawan tabrakan setelah beberapa saat terduduk. Ada sosok jangkung lain di depannya. Bukan menanyakan keadaan atau berbasa-basi sekadar minta maaf, orang itu malah menangisi bungkus tteobokki yang berserakan di atas tegel. Dengan berat kepala Jack beranjak, salah satu tangan menekan pelipis karena efek nyeri akibat ditabrak mulai bermunculan.

Ya,” panggilnya, menendang-nendang sepatu si penabrak. “Kau, apa yang—Watari?”

Watari?

* * *

June, 1st 2016

Address:
Strom Light Pub, Hongdae
Seoul, South Korea
02:45 PM KST

“Aku?” Miwa mengerang malas. Dalam hati gadis itu bersungut karena dibangunkan sore hari begini, apalagi sehabis melakukan pub crawl semalam. “Malas, ah. Harus berapa kali kuberitahu, aku tidak mau bergabung kalau band lamamu belum bubar.” Ia mengangkat kepala, berusaha menatap pria yang merupakan juniornya di ajang pencarian bakat Roppongi beberapa tahun silam dengan mata setengah lekat. “Aku tidak mau dikatakan perebut tahta orang.” Imbuhnya, sebelum kembali membenamkan kepala dalam lipatan tangan.

Jack menghela napas. Ia pun tak tahu, benar atau tidak jalan yang diambil. Tahun lalu, ketika tidak sengaja bertemu Watari di kediaman lama, tiba-tiba saja semangat untuk membangun popularitas di Hongdae kembali membara. Seperti dulu, bersama Killerpile. Sial, mengumamkan nama itu dalam benak kepala hanya membuat pria itu ingin segera menghentak kelab-kelab Hongdae dengan alunan musik khas Killerpile.

“Jadi, Senpai tidak mau?”

Miwa mendengus. Kontan menarik tubuh dari meja, kini berhadapan dengan biang penganggu tidur sorenya. “Aku tahu kau dari siapapun di dunia ini, berengsek. Kau pikir aku percaya dengan omonganmu kalau semua ini murni karena musik? Namen ja ne. Terus kejar dia sampai dapat, itu kan alasanmu kembali kemari. Sudah, ya, jangan temui aku kalau ingin bicara soal band, bawalah berita bagus-bagus.” Iris cokelatnya menatap pria di depan lama sebelum menghembuskan napas. Lantas beranjak dan melangkah ke pintu keluar.

Sedangkan Jack, terpaku di tempat. Tidak tahu harus berujar apa, perkataan Miwa barusan dapat dikatakan benar. Alasan ia menempuh pendidikan di luar kota, kemudian mengambil program pertukaran ke Jepang lalu, kembali kemari untuk memastikan jikalau gadis itu ikut merindukan kota ini. Semua jelas menunjukkan bahwa ia masih memendam perasaan tabu itu.

Aho.”

. . .

Address:
Killerpile’s studio, Nonhyun
Seoul, South Korea
08:20 PM

“Atari—kau,”

Jack menahan napas. Langkah antusias ketika memasuki tempat latihan terhenti di anak tangga terakhir. Temangu beberapa saat karena pemandangan di depan. Sebuah kebodohan terbesar untuk mempercayai pemuda itu setelah pertemuan intensif setahun belakangan ini. Ia harusnya sadar, jikalau pria di depan bukanlah Watari Kobe di kisah lampau. Penuh kesempurnaan, peraih segala macam medal di sekolah.

Kini, pria itu hanya onggok daging tanpa tujuan hidup.

Awal mula, Daemi menemukan pria itu di balik gedung sekolah. Bergelut bersama sampah karena dikerjai teman sekelas. Bukan membantu, gadis itu malah bertukar informasi mengenai kehidupan sembari menikmati onigiri. Ia diberitahu kalau keluarga Watari memiliki kedudukan di ranah hukum, ditambah persoalan klasik mengenai kekangan orangtua akan masa depan sampai berlanjut ke kegiatan yang acapkali dilakukan—hobi kedua belah pihak. Lantas Daemi bertanya, kegiatan mana yang paling dia sukai? Watari bergidik. Dia berujar tidak mengerti akan rasa suka karena selama ini semua hal itu dikerjakan berdasar paksaan. Kemudian, tanpa sadar Daemi memberi penawaran;

“Kau mau tahu apa itu rasa suka?”

Jack yang waktu itu masih tidak menerima kedatangan Kazehaya Kei dalam lingkup mereka dibuat sekakmat ketika melihat pria lain ikut bertandang ke tempat latihan bersama Daemi. Saat ditanya alat musik apa yang bisa Watari lakukan, dengan polos disambut gelengan polos. Hanya, beriring waktu dihabiskan bersama, juga encernya otak pria itu dalam mengelolah sesuatu, Watari dapat mengubah tempo sengkarut menjadi alunan musik rock kental. Satu tahun berlalu. Seperti tahun sebelumnya, Killerpile kembali mendaftarkan diri sebagai pengisi acara bersama bassist baru setelah tahun lalu dihancurkan oleh penyakit sakit perut Kei. Namun, mendadak Watari menghilang tanpa kabar. Beberapa jam sebelum nama Killerpile disebut pembawa acara.

Yang tentu, di tahun 2015 kemarin menjadi ajang pertemuan pertama mereka setelah kejadian itu.

 “Oi, Atari.”

Ia berdecak. Bahkan guncangan kasar darinya tidak dapat membangunkan pria itu. Iris pekat Jack beralih ke meja pendek dekat sofa, menelusuri serak sampah makanan cepat saji berikut dengan maekju dan obat tidur. Lantas dahinya dibuat berkerut, sejak kapan pria itu mengkonsumsi obat-obatan seperti ini? Sekali lagi ia melihat ke arah Watari. Nampaknya sebelum tidur pria itu sempat menerima telepon karena benda pipih itu masih berada dalam kepalan tangan dan—sebentar. Tidak yakin, Jack menarik leher lebih jauh. Mencoba melihat wajah Watari yang tengah tertidur dengan keadaan tengkurap itu intens, lalu iris tegasnya berubah cekung.

Ada suatu hal terjadi dalam percakapan tadi. Dibuktikan dengan sisa riol kering di wajah tirus Watari.

End: (Jack Percy)

  1. Cerita ini bakal berkesinambungan sama hasil wawancara Killerpile.
  2. Yaaaas, selamat menempuh jalan baru Jack!
  3. Terimakasih!!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s