[90º Degrees] Ask Your Original Character: Afternoon Tea With Maxine An Lincoln

Games ini dibuat oleh salah satu penulis ©snqlxoals818. Tapi saya telat ikut karena postingannya sudah dihapus. Berhubung sudah terlanjur nulis sesi interview dengan anak-anak saya (re, karakter original) dan kebetulan di blog penulis dikasih izin buat terus lanjut, jadi saya tetep publish sampai saya merasa pasai. Okelah, mari mulai!

Afternoon Tea with:

Maxine An Lincoln

. . .

“Me? I’m not smart, either have a very rare capability to think nor nerd, moreover get blessed by God. I just, a genius person.”


November, 8th 2016

Boston, United States

Tak kusangka berangkat ke salah satu negara di united states bisa membuahkan hasil seperti ini. Berawal dari keinginan untuk sekadar melakukan travelling singkat sembari menunggu skedul pekerjaan lain dan tanpa sengaja mengudarakan panggilan ke keluarga Lincoln; Adam Lincoln merupakan anak asuh William Brown ketika masih mengais ilmu di universitas ternama di kota kelahiran, Max menyerukan keinginan untuk diwawancari pertama kali. Berkata kalau ia sedang tidak memiliki pekerjaan—setelah kembali dari negara tetangga karena bertengkar dengan Isaak—apalagi proyek pemerintah yang tidak seseru tahun lalu membuat gadis itu menjadi pengangguran. Tak ada kegiatan lain selain menonton telenovela atau menganggu Isaak saat pemuda itu ada di rumah, itu pun sebulan satu kali.

Max bilang ia akan sampai dalam waktu limabelas menit karena hari ini tanpa sengaja gadis itu diundang dalam rapat mensa, sekadar berbasa-basi mengabsenkan diri. Aku pun tidak akan banyak protes jikalau manusia genius itu terlambat. Melihat hujan rintik-rintik masih membasahi downtown Boston.

I won’t ever let you touch steer anymore, okay Stupid.” Telingaku berdesir kala mendengar suara cekcok antarlawan jenis di pelataran kedai. “If you want to die so early then go ahead but don’t ask me in. Understand,”

Benar saja, dua insan itu kembali terlibat pertengkaran. Aku menghela napas, lantas mengangsurkan tangan sebagai tumpuhan dagu. Mungkin ada baiknya menonton mereka terlebih dahulu sebelum memulai sesi wawancara, selagi menunggu hujan berhenti dan lagipula aku tidak dalam keadaan terburu-buru.

* * *

11116997_867278589979826_396359010_n

Q: What do you look like?

M: Genius—bukan pintar atau memiliki kemampuan berlebihan di bagian kepala. Aku ini orang genius. Genius dan pintar itu beda. Pintar berasal dari keinginan manusia untuk berbuat sesuatu secara berlebihan atau hasil dari kerja keras, sedangkan genius adalah kemampuan sejak lahir tanpa usaha. Seperti, otakmu berkerja dengan sendirinya tanpa perlu diajak berpikir. Maka dari itu, jangan samakan aku dengan golongan orang pintar, kelasku lebih dari itu.

Q: What do you like to wear?

M: Something comfortable with. Because I don’t often go out, yet staying in lab or library so I prefer wear a loose shirt and denim, sometimes I match it with flipflop rather than sneakers. Gaya berpakaian tidak jelasku ini terkadang dijadikan bahan ejekan Isaak, dan sampai suatu hari dia memberiku gaun tunik karena merasa kasihan. Tapi karena itu, I have clothes that I really like to wear.

Q: What are your hobbies?

Hobiku itu sering berubah-ubah. Tidak bisa menetap satu tempat karena kelebihanku dalam menguasai sesuatu dalam hitungan detik (ini adalah fakta). Kalau aku menjawab belajar, hal itu sudah menjadi kebiasaan mendarah daging semenjak aku lahir. Bagaimana…Oh! kemarin aku baru saja ditolak lagi oleh Isaak dan tanpa sengaja saat diundang mengisi acara di Toronto, aku diingatkan oleh teman lama di masa menengah atas. Semanjak itu aku jadi hobi mencari tahu tentang dia dan terobsesi dengan keberadaannya.

Q: What kind of food and drink do you like the most?

M: Kopi berlarut serbuk besi. I don’t like it but Isaak often buys this kind of coffee so, yeah. I live for it because of him. Aku pernah meminta dia untuk membeli kopi di tempat lain karena hampir semua kedai di daerah ini mengandung larutan itu, dan Isaak terpaksa membeli secangkir kopi di kota Worchester. Hah, setelah itu aku merasa tidak enak padanya dan tidak pernah protes lagi.

Q: Do you drink alcohol?

M: Meh, not my cup of tea. This is stupid, you know. I tried to tell Isaak to stop because he’s so much into wine—I heard he bought a very expensive wine when I’m not around. Aku harap dia dan Ayah berhenti mengkonsumsi minuman keras dan menjadikan minuman itu sebagai alasan pelarian diri dari pekerjaan. Aku hanya akan makan dan minum yang membuatku menjadi sehat saja.

Q: What is your favorite color and why?

M:Isaak’s eyes color. Why, because I love him. Simple.

Q: Do you have any pet?

M: Nope. Will not have time to play with them, because I’m still busy chasing Isaak to be my fiance.

Q: What music do you listen to?

M: Coldplay and my ex-classmate’s band.

Q: What season do you enjoy the most?

M: The changing between Summer to Autumn. You know, when the gentle breeze comes along it’s so refreshing.

Q: Describe your family, please.

M: As you know, my mom died when she was working at Fabric in Michigan. I only have my lonely Dad, Adam and Isaak—I don’t want to call him step-brother, because soon he’ll be my fiance. Tapi meskipun aku besar tanpa seorang Ibu, aku tetap merasa bahagia dan tidak menyesal mengapa Tuhan mengambil Ibuku lebih cepat. Berkat beliau, aku bisa bertemu Isaak dan menghabiskan hidupku dengan dia nanti.

Q: What was your first best friend like?

M: Kau bisa lihat dari sini bagaimana tingkah dia (menoleh ke bangku lain tempat Isaak duduk). Sekarang kau tahu, kan kenapa aku berkali-kali menyatakan perasaan padanya. Dibandingkan sikapnya yang dingin serta misterius, Isaak memiliki hati lembut seperti wanita pada umumnya. That’s why I’m so obsessed to be his wife because I think, I will live happily until the rest of my life.

Q: How do you like to socialize?

M: I…don’t really like to socialize. Semenjak aku lahir, lalu menetap di Michigan, aku selalu berada di rumah bersama para pelayan. Ini semua karena Ayah sibuk terlibat dengan berbagai macam proyek dan Ibu terkadang menghabiskan waktu di pabrik semata karena belum terbiasa menjadi pengangguran. For information, Ibu dulu membangun usaha roti bagel di New York dan terpaksa ditutup setelah menikah dengan Ayah. Tapi, kalau tidak salah di umur 4 tahun, ketika semua kejadian buruk terjadi, aku semakin dikunci di dalam rumah dan tidak boleh melihat matahari kalau Ayah tidak ada di rumah.

Q: What was the most memorable moment in your school-years?

M: Teman Ayah bilang, aku sudah bisa masuk menengah atas di umur lima tahun tapi sejak pernyataan itu, Ayah malah semakin menutup diriku rapat-rapat di dalam rumah. Bahkan sampai memecat seluruh pelayan, dan berakibat pada proyeknya. Namun lambat laun, ketika Isaak datang ke kehidupan kami dan kondisi keuangan keluarga menjadi stabil, aku dimasukkan ke dalam salah satu sekolah kejurusan di Toronto—Ayah mengenal kepala sekolahnya—meskipun seharusnya aku sudah berada di jenjang doktoral. Saat itu, aku bertemu dengan tiga sekawan yang seringkali melakukan live performance dalam kelas dan kupikir itu satu-satunya the most memorable moment in school years.

Q: What traits do you like the most in others?

M: Mean and, uhm…something that Isaak has.

Q: What did you want to be when you grew up; and what did you end up becoming?

M: I have everything now. I can be anything if I want so, I don’t know. Maybe I’m still be a genius person.

Q: What were you most proud of?

M: The fact that I’m genius.

Q: What makes you laugh?

M: When Isaak starts nagging at me. I don’t pyschically laugh but, I laugh inside my brain.

Q: What makes you embarrassed?

M: Nothing. You shouldn’t be embarrased about who you’re now, in the past or future. Be proud, at least you try something even though the output isn’t good.

Q: What do you feel most passionately about?

M: Ketika aku mengucapkan perasaanku pada Isaak. Tapi Isaak selalu berkata itu hanya perasaan semu dariku karena aku tidak tahu arti dibalik perasaanku sendiri.

Q: What did you find terribly scary?

M: Dad’s side effect experiments. Isaak has it, he said to me not to worry but I can’t. 

Q: What annoys you?

M: When Isaak dumps me again and again. I mean, what’s wrong with him? What the things that I don’t have but his fiancee has? Yeah, he engaged with someone. Even Samuel, his bestfriend at work doesn’t know about it.

Q: What makes you happy?

M: When Isaak says, ‘I’m home.’

Q: What makes you upset?

M: Alone at home.

Q: What are your bad habits?

M: Forcing Isaak to accept me…maybe?

Q: What do you do when you’re angry?

M: Will do more works. I become more competent when I’m in angry mode, like I finish all projects quicker than as a normal person.

Q: If you were an animal, what animal is it?

M: Eagle.

Q: What are your favorite holiday destination?

M: Siberia, Oymyakon. But Isaak will never let me go there, sigh.

Q: What are your favorite activities during your spare time?

M: Doing nothing.

Q: What time do you usually go to sleep?

M: Depens on project. I will not sleep if I’m so curious about something and want to know the answer quickly.

Q: What is the first thing that you do when you wake up?

M: When Isaak stays at home, I’ll go as soon as possible to in front door to see him depature or flying a kiss (LOL).

Q: If you were to come into money what would you do with it?

M: I have more than billions in my account now, you want something? I do this often.

Q: Who was the love of your life?

M: You knew it. I say that name many times in this interview.

Q: If you have a chance to change your life, will you take it or not? Why or why not?

M: No. I love what I’m doing now. I have Dad, Isaak, money and home to go back.

Q: Do you have any message and impression that you want to say to your creator?

M: Thanks to make Isaak stays with us. I will not forgive you if you take him from me. Else, no, I don’t care about her…ugh, okay. Love yourself first then you can move on to do what you want.

Q: Last but not least, what were you doing before you do this interview?

M: Didn’t you see that, we were arguing in front of restaurant and he called me stupid again.

* * *

You wouldn’t take Isaak from me, would you?

Aku mendongak. Dipaksa menatap lurus ke arah manik cokelat kucing milik Max, kemudian tersenyum simpul. “Rahasia.”

Afternoon Tea With Maxine: End

Notes:

  1. Akhirnya, satu OC kelar. Masih ada puluhan kalau mau dibabat semua, tergantung sama niat sih. Mohon dimaafkan kalau si Max ini anaknya agak songhong, tapi fakta, kok. Dia emang genius, mau gimana lagi /sigh/
  2. Saya disini berperan sebagai jurnalis yang emang hobi disuruh keluar sama bos, maksudnya keliling kota gitu. Konsep ini dibuat semata buat mempercantik interviewnya saja 😉
  3. Maxine An Lincoln ini saya buat karena terinspirasi dari novel Touche: Alchemist. Bedanya, si genius di sini perempuan kalau di novel sana laki. Sama-sama seenak jidat kalau suka sama orang, tapi si Max ngungkapi perasaannya sampai meluber ke mana-mana/?/ semua orang sampai pada tahu. Walaupun udah ditolak tetep maju, cuma dia gak memperbaiki keadaan.
  4. Makasih sudah mampir!!
Advertisements

Something isn't right, is it? Tell me!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s